Esai Alda Muhsi dimuat di Harian Medan Bisnis edisi Minggu, 20 April 2014
PERKEMBANGAN teknologi di zaman modern seperti sekarang ini membawa pengaruh besar bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa ada batasan usia. Bisa dilihat dari hadirnya gadget canggih yang menyita seluruh mata berbagai kalangan manusia. Seakan berlomba-lomba untuk memilikinya. Sistem aplikasi media sosial dan kumpulan permainan dikemas secara apik telah menyihir para penggunanya. Sistem teknologi dan informasi yang canggih ini tanpa disadari berdampak buruk bagi budaya baca kita. Lihat saja pada anak-anak, di usia yang masih membutuhkan pembelajaran sudah diberikan gadget-gadget canggih yang membuat mereka malas untuk membaca dan belajar.
Siapa yang mesti disalahkan?
Dalam dunia sastra, seperti yang diketahui tentunya ada sastra yang khusus ditujukan untuk anak-anak. Anak-anak yang berumur 1 hingga 12 tahun. Bagi anak yang belum bisa membaca, sastra dapat disajikan oleh orangtua dengan melisankan kepada mereka, misalnya dongeng, nyanyian, cerita agama, dan lain sebagainya. Dan bagi anak yang sudah bisa membaca, mereka dapat disuguhkan dengan bacaan-bacaan sastra yang sudah disajikan di dalam buku kumpulan cerita, majalah ataupun koran.
Namun sangat disayangkan, kurangnya perhatian masyarakat ataupun pegiat sastra terhadap sastra anak menjadi kelemahan yang sampai kini masih belum bisa teratasi. Padahal pembelajaran sastra anak sudah tentu membawa pengaruh positif bagi perkembangan anak-anak.
Kita mungkin sudah pernah mengikuti kegiatan-kegiatan, workshop, maupun seminar yang berkenaan dengan sastra. Baik itu yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ataupun komunitas-komunitas sastra yang ada. Dan yang jadi pertanyaan adalah apakah pernah kegiatan-kegiatan tersebut bertema sastra anak?
Kemudian pertanyaan lain yang ditujukan kepada komunitas-komunitas sastra adalah apakah pernah membahas materi mengenai sastra anak pada setiap pertemuan yang terjadwal? Kalau sudah, kegiatan tersebut patut diacungi jempol. Dan kalau belum, sampai kapan dan harus menunggu apa lagi? Atau mau menunggu sampai sastra anak punah?
Banyak perlombaan-perlombaan sastra diadakan, dari mulai menulis puisi, baca puisi, menulis cerpen, esai, hingga teater. Namun yang mungkin pernah ditujukan untuk anak-anak adalah membaca dan menulis puisi. Kenapa menulis cerpen dan teater tidak diikutsertakan anak-anak? Dan kenapa tidak ada perlombaan menulis cerita anak misalnya?
Memang kesadaran terhadap pentingnya sastra anak belum tumbuh di tengah masyarakat kita. Padahal sastra anak mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak. Sebagaimana yang dikatakan Nurgiyantoro dalam bukunya Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak, "Sastra anak diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan sebagai manusia yang mempunyai jati diri yang jelas."
Ia juga mengkategorikan kontribusi sastra anak terhadap perkembangan kepribadian anak tersebut ke dalam dua nilai, yaitu nilai personal dan nilai pendidikan.
Adapun nilai-nilai personal dalam sastra anak tersebut adalah, (a) perkembangan emosional, (b) perkembangan intelektual, (c) perkembangan imajinasi, (d) pertumbuhan rasa sosial, dan (e) pertumbuhan rasa etis dan religius.
Nilai-nilai pendidikannya adalah (a) eksplorasi dan penemuan, (b) perkembangan bahasa, (c) pengembangan nilai keindahan, (d) penanaman wawasan multikultural, dan (e) penanaman kebiasaan membaca.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sastra anak kepada anak-anak berdampak positif bagi perkembangan pribadi sang anak. Sudah saatnya setiap kalangan menyadari bahwa sastra anak memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan kepribadian anak. Sudah sepantasnya pula kita peduli terhadap sastra anak demi menjaga generasi muda agar terus melestarikan sastra. Dengan menjaga dan peduli terhadap sastra anak berarti kita turut mempertahankan budaya membaca sejak kecil hingga takkan pernah hilang tergerus zaman.
PERKEMBANGAN teknologi di zaman modern seperti sekarang ini membawa pengaruh besar bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa ada batasan usia. Bisa dilihat dari hadirnya gadget canggih yang menyita seluruh mata berbagai kalangan manusia. Seakan berlomba-lomba untuk memilikinya. Sistem aplikasi media sosial dan kumpulan permainan dikemas secara apik telah menyihir para penggunanya. Sistem teknologi dan informasi yang canggih ini tanpa disadari berdampak buruk bagi budaya baca kita. Lihat saja pada anak-anak, di usia yang masih membutuhkan pembelajaran sudah diberikan gadget-gadget canggih yang membuat mereka malas untuk membaca dan belajar.
Siapa yang mesti disalahkan?
Dalam dunia sastra, seperti yang diketahui tentunya ada sastra yang khusus ditujukan untuk anak-anak. Anak-anak yang berumur 1 hingga 12 tahun. Bagi anak yang belum bisa membaca, sastra dapat disajikan oleh orangtua dengan melisankan kepada mereka, misalnya dongeng, nyanyian, cerita agama, dan lain sebagainya. Dan bagi anak yang sudah bisa membaca, mereka dapat disuguhkan dengan bacaan-bacaan sastra yang sudah disajikan di dalam buku kumpulan cerita, majalah ataupun koran.
Namun sangat disayangkan, kurangnya perhatian masyarakat ataupun pegiat sastra terhadap sastra anak menjadi kelemahan yang sampai kini masih belum bisa teratasi. Padahal pembelajaran sastra anak sudah tentu membawa pengaruh positif bagi perkembangan anak-anak.
Kita mungkin sudah pernah mengikuti kegiatan-kegiatan, workshop, maupun seminar yang berkenaan dengan sastra. Baik itu yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ataupun komunitas-komunitas sastra yang ada. Dan yang jadi pertanyaan adalah apakah pernah kegiatan-kegiatan tersebut bertema sastra anak?
Kemudian pertanyaan lain yang ditujukan kepada komunitas-komunitas sastra adalah apakah pernah membahas materi mengenai sastra anak pada setiap pertemuan yang terjadwal? Kalau sudah, kegiatan tersebut patut diacungi jempol. Dan kalau belum, sampai kapan dan harus menunggu apa lagi? Atau mau menunggu sampai sastra anak punah?
Banyak perlombaan-perlombaan sastra diadakan, dari mulai menulis puisi, baca puisi, menulis cerpen, esai, hingga teater. Namun yang mungkin pernah ditujukan untuk anak-anak adalah membaca dan menulis puisi. Kenapa menulis cerpen dan teater tidak diikutsertakan anak-anak? Dan kenapa tidak ada perlombaan menulis cerita anak misalnya?
Memang kesadaran terhadap pentingnya sastra anak belum tumbuh di tengah masyarakat kita. Padahal sastra anak mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak. Sebagaimana yang dikatakan Nurgiyantoro dalam bukunya Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak, "Sastra anak diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan sebagai manusia yang mempunyai jati diri yang jelas."
Ia juga mengkategorikan kontribusi sastra anak terhadap perkembangan kepribadian anak tersebut ke dalam dua nilai, yaitu nilai personal dan nilai pendidikan.
Adapun nilai-nilai personal dalam sastra anak tersebut adalah, (a) perkembangan emosional, (b) perkembangan intelektual, (c) perkembangan imajinasi, (d) pertumbuhan rasa sosial, dan (e) pertumbuhan rasa etis dan religius.
Nilai-nilai pendidikannya adalah (a) eksplorasi dan penemuan, (b) perkembangan bahasa, (c) pengembangan nilai keindahan, (d) penanaman wawasan multikultural, dan (e) penanaman kebiasaan membaca.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sastra anak kepada anak-anak berdampak positif bagi perkembangan pribadi sang anak. Sudah saatnya setiap kalangan menyadari bahwa sastra anak memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan kepribadian anak. Sudah sepantasnya pula kita peduli terhadap sastra anak demi menjaga generasi muda agar terus melestarikan sastra. Dengan menjaga dan peduli terhadap sastra anak berarti kita turut mempertahankan budaya membaca sejak kecil hingga takkan pernah hilang tergerus zaman.

Komentar
Posting Komentar