Tahun 2014, tahun politik di Indonesia. Di mana terjadi pertempuran antara dua pasang calon orang nomor 1 dan 2 di Indonesia. Sedikit mengintil untuk memasuki dunia itu saya membuat sebuah cerpen bertajuk calon presiden. Cerpen ini bukan untuk mendukung salah satu pasangan calon ketika itu. Bacalah dengan seksama agar dapat membedakannya.
Pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa, Rubrik Cerpen & Puisi edisi Rabu, 11 Juni 2014.
Cerpen oleh Alda Muhsi
Pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa, Rubrik Cerpen & Puisi edisi Rabu, 11 Juni 2014.
Cerpen oleh Alda Muhsi
Pemilu
legislatif telah usai digelar. Dengan segala kontroversi yang terjadi. Banyak
yang menuntut, katanya suaranya hilang dicuri. Tapi hasil mutlak tidak dapat
diganggu gugat. Wajah baru banyak menghiasi kursi anggota dewan, barangkali
wajah-wajah yang tak kalah hijau saat menatap uang. Wajah lama harus sembunyi
di kantong safari atau saku celana. Mungkin tak mau menampakkan cela karena tak
dipilih lagi, sudah mengingkari hak masyarakat.
Kini
tinggal menunggu pemilu presiden dua bulan mendatang. Saat ini semua partai
tengah sibuk mencari arah koalisi dan mendeklarasikan diri. Hanya ada dua nama
yang digadang-gadangkan bakal berkompetisi untuk meraih kursi tertinggi negeri.
Keduanya pun telah sering nongol di tivi menyampaikan visi dan misi untuk
mendapat simpati masyarakat. Saling saing, tapi sudah tak sehat. Apa lagi tim
sukses dan tim pemenangan. Masing-masing memberi argumen untuk saling hujat.
Ah, ada-ada saja mereka para politisi.
Banyak
berita di koran, televisi, dan juga media online
menyiarkan keburukan satu sama lain. Jelas-jelas menunjukkan betapa bobroknya
sosok yang bakal memimpin negeri ini. Apa kata dunia? Mungkin kita saja yang
tidak mendengar tawa dan olok-olokan mereka. Kok semakin hari, di zaman yang
sudah modern ini masih bisa saja berpikiran kolot. Memangnya dengan
menjelek-jelekkan dan memburuk-burukkan lawan politik sudah tentu menang dan
dipilih rakyat? Rakyat tak lagi bodoh. Rakyat tidak hanya mempunyai dua mata.
Siang
itu aku duduk di warung Ambi seperti biasa. Memesan nasi soto dan sirup kurnia.
Karena begitu ramai, aku kedapatan tempat paling sudut, tentu saja yang paling
panas, langsung berkenaan dengan sinar matahari. Di depanku tampak duduk
seorang lelaki berkumis begitu serius membaca koran, sampai-sampai ada lalat
yang hinggap di bibir gelas kopinya ia pun tak sadar. Di samping kiri
orang-orang main kartu, entah judi entah tidak, aku tak tahu. Di samping
kirinya lagi orang-orang main catur dan di kiri paling pojok orang-orang main
dam batu. Semua orang itu tidak aku kenali, begitu pun mereka, tak mengenalku
juga. Di antara mereka ada juga yang tak saling kenal, hanya tahu wajah saja.
“Ini
makanannya, Bang.”
Bu
Ambi memang biasa memanggilku abang, maklum saja anaknya baru kelas 6 SD, jadi
mengganggap aku sebagai abangnya.
“Iya,
Bu, terima kasih.”
“Jadi,
nanti pilih siapa, Bang?”tanya si Ibu pemilik warung padaku.
“Ah,
gak taulah, Bu, pusing mikirinnya. Paling golput lagi. Siapa pun yang jadi
presiden tetap aja negara ini berantakan birokrasinya.”
“”Kenapa
harus golput, Dik?” sambar lelaku berkumis yang tadi baca koran di depanku.
Aku
menggeleng saja sambil tersenyum lalu kulanjutkan makan.
“Rugi
kalau kita golput, satu suara sangat menentukan perubahan negeri,” katanya
lagi, “kalau belum tau mau pilih siapa, ya saya saranin agar pilih si a saja.”
“Kenapa
mesti dia, Pak? Bukannya si b yang lebih populer?” kataku selepas suapan yang
terakhir.
“Iya,
tapi kepopuleran untuk apa? Kita tak butuh. Kita kan butuhnya perubahan. Maka
perlu yang tegas, ya seperti si a. Dia kan mantan jenderal. Disegani berbagai
negara di dunia.”
“Tapi,
Pak, banyak cerita buruk yang beredar tentang masa lalunya.”
“Masa
lalu yang mana? Penculikan aktivis? Ya, dia kan cuma jalani perintah atasan
saja. Di situ harusnya kita bisa menilai lebih bahwa dia menghormati atasan dan
menjunjung tinggi jabatan. Ketegasan diperlukan dalam jiwa pemimpin. Kalau si b
suka nyeleneh begitu, bagaimana mau mimpin negara. Nanti dia juga hanya akan
jadi boneka partai. Hayo, bisa habis kita dikikis keserakahan.”
“Tapi
itu kan cuma prasangka sebagian orang yang tidak menyukainya. Salah satunya
bapak. Mungkin saja orang-orang di sini, yang sedang main kartu, catur, dan dam
batu ini berbeda.”
“Ya,
itu juga kembali ke adik. Bapak cuma nyaranin kalau mau negeri ini tak jatuh
pada tangan yang salah maka pilihlah si a.”
“Ah,
bapak ini lagaknya sudah kaya yang tahu segalanya saja. Memangnya bapak tim
suksesnya ya, Pak?” sahut Bu Ambi.
“Oh,
bukan, Bu, saya bukan orang partai, apa lagi tim suksesnya.”
“Jadi,
kenapa dari tadi bapak begitu semangat mengimbau untuk memilihnya?”
“Ya,
bukan apa-apa, sebagai warga negara yang baik, kita kan wajib memilih. Teramat
sayang jika satu suara saja hilang. Nanti esensi demokrasinya bisa luntur.”
Aku
bertanya dalam hati, siapa sebenarnya bapak berkumis ini. Apa mungkin dia bukan
tim suksesnya? Dari gaya bicaranya saja sudah kentara. Sama saja seperti
iklan-iklan di koran dan televisi. Saling pukul, saling mengunggulkan diri, dan
saling hujat. Begitulah dia memukul dan menghujat si b, dan menggunggulkan si
a. Sebenarnya untuk apa dilakukannya kalau bukan tanpa duit?
Geluduk
guntur terdengar di atas kepala. Sahut-sahutan memanggil hujan agar pergi
bermain bersama.
“Waduh,
sudah mau hujan, bapak pergi dulu ya.”
Bapak
berkumis itu pun segera berlalu setelah membayar kopinya, ia juga membayarkan
pesananku.
“Terima
kasih, Pak.”
Ia
tersenyum melangkah.
Seketika
itu hujan turun begitu deras. Orang-orang yang sibuk dengan kartu, catur, dan
dam batunya tetap tak beranjak. Mereka seolah tak peduli apa yang terjadi.
Mungkin juga mereka sama sepertiku, yang pada pemilu nanti akan memilih golput.
“Deras
kali hujannya ya, Bang. Asal jangan mati listrik ajalah. Biasanya kalau udah
hujan dan petir seperti ini kan selalu mati listrik. Maunya presiden yang baru
nanti bisalah menangani masalah listrik, biar gak ada mati-mati lagi. Jadi kan
gak percuma udah bayar mahl-mahal.”
“Hehehe,
iya, Bu.”
“Apa
gak ada ya calon presiden yang mengusung Indonesia tanpa kegelapan. Kalau ada kan
bagus juga.”
“Iya,
Bu, kalau ada begitu pasti saya akan milih dia. Apa lagi kalau tanpa kegelapan
mata hati. Itu yang sangat perlu.”
“Hahaha,
bijak juga ya, Bang.”
“Oiya,
Bu, ngomong-ngomong bapak tadi siapa ya?”
“Wah,
ibu juga gak tau, Bang, baru sekali ini dia kemari.”
“Jangan-jangan
dia anak buah dari capres yang bekas jenderal itu, Bu? Yang dulu juga nembak
mati dan nyulik orang-orang?”
“Ah,
gak mungkinlah, Bang.”
Hujan
terus menderu, air tergenang sudah semata kaki. Parit-parit di tepi jalan sudah
tertutupi. Sampah-sampah terbawa hanyut entah ke mana. Di warung Bu Ambi,
orang-orang masih sibuk dengan kesenangannya. Sementara aku, terus gelisah
memikirkan jemuran di kontrakan yang sudah pasti kembali basah.
***
Hujan
reda. Air surut. Aku pulang
Di
tengah jalan kulihat seorang pria tertanam setengah badannya di samping pohon
kelapa yang menjulang tinggi. Jidatnya bolong tertembus oleh peluru. Tak ada
napas yang tersengal. Tak ada pula dada yang kembang-kempis. Lalu, di pohon itu
terpajang poster calon presiden yang dipujanya. Tentu saja sudah berlumur
darah, tepat di kepala dan dadanya.
Medan, Mei 2014 
Komentar
Posting Komentar