Langsung ke konten utama

Menyoal Peran Kritikus Sastra

Esai ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Waspada Medan, Minggu, 29 April 2018.


Oleh Alda Muhsi*
Seorang guru menulis buku sastra dan diterbitkan melalui penerbit berkonsep self publishing. Kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah dan kampus melalui jaringan sesama guru dan dosen. Alhasil dalam waktu satu bulan buku sudah terjual 300 eksemplar.
Seorang mahasiswa, anggota organisasi kemahasiswaan, menulis sebuah buku karya sastra dan diterbitkan melalui penerbit berkonsep self publishing. Kemudian didistribusikan ke tiap-tiap mahasiswa melalui jaringan organisasi. Alhasil dalam waktu satu bulan buku sudah terjual 300 eksemplar.
Dari dua kasus di atas timbul pertanyaan: ketika buku sudah laris terjual masihkah perlu adanya kritikus? Jikalau perlu, apa perannya?
Dalam dunia sastra ada istilah masyarakat sastra. Masyarakat sastra terdiri dari pembaca, pencipta dan kritikus. Alwi, Hasan dan Dendy Sugono (2002: 225) menyatakan bahwa sastra memiliki tiga wilayah, yakni wilayah penciptaan, wilayah penikmat (pembaca), dan wilayah pengkajian atau penelitian yang mana wilayah ini merupakan wilayah kritik sastra. Untuk menjawab pertanyaan pertama di atas, ketika buku sudah laris terjual masihkah perlu adanya kritikus? Jawabannya tentu saja perlu. Ketika kita meniadakan wilayah kritik sastra terhadap produk sastra artinya kita menciderai kesatuan masyarakat sastra itu sendiri. Dengan kata lain keutuhan sastra itu menjadi timpang.
Kemudian muncullah pertanyaan lanjutan, sebenarnya apakah peran kritikus sastra itu? Terlebih dalam kondisi buku sudah laris terjual.
Ketika karya sastra tercipta kedudukan kritik sastra secara otomatis setara dengan pencipta dan pembaca. Oleh karenanya kita tidak mungkin menafikan kehadiran para kritikus yang akan mengkritisi karya sastra kita. Persoalan untuk apa lagi karya itu dikritik karena buku sudah laris terjual, kita mesti ingat peran utama adanya kritik sastra bukanlah untuk menjual karya sastra itu dengan materi.
Jassin (1945) mengatakan bahwa kritik sastra adalah pertimbangan baik buruknya suatu karya sastra, serta penerangan dan penghakiman karya sastra. Bisa dibilang bahwa peran kritikus adalah sebagai pembedah dan penilai suatu karya sastra dengan pisau kajian yang tersedia untuk kemudian diumumkan kepada khalayak pembaca/penikmat dengan bahasa yang gampang dicerna oleh masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para pembaca dalam memahami karya sastra yang dihasilkan oleh pencipta.
Setiap kritikus tentu saja harus memiliki bekal yang cukup dalam mengkritisi karya sastra. Setiap kritikus harus mampu mengikuti perkembangan dan perjalanan sastra, aturan-aturan baku dalam sastra, kaitan-kaitan dengan peristiwa, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu ketika berbicara mengenai kritik sastra ada baiknya kita menyejajarkannya dengan dua bidang cakupan sastra lainnya, yaitu teori sastra dan sejarah sastra. Setiap kritikus wajib memiliki pengetahuan yang tinggi dalam bidang teori dan sejarah sastra. Hal itu akan memudahkannya ketika mengkritisi sebuah karya sastra. Adanya perbandingan tema, gaya bahasa, faktor lingkungan, dan sebagainya dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, dari angkatan ke angkatan, dapat menjadi acuan dan alasan bagaimana sebuah karya sastra itu lahir.
Kritik sastra bukan hanya menawarkan penilaian baik buruknya suatu karya sastra. Kritik sastra lebih menekankan pada penelaahan, penunjukan di mana letak baik dan buruknya karya sastra, menjelaskan nilai-nilai tersirat yang terkandung dalam karya sastra, juga menguak lorong-lorong tersembunyi yang disajikan sehingga lebih memudahkan masyarakat pembaca untuk memahami karya sastra itu tepat sasaran. Dengan kata lain kritik sastra berada di antara pencipta dan pembaca. Kritik sastra sebagai jembatan penghubung pikiran antara pencipta (yang menyampaikan gagasan) dan pembaca (sebagai reseptor, penerima gagasan). Untuk apa kritik itu ada jawabannya adalah untuk menyampaikan secara gamblang maksud dan tujuan pencipta dalam karya sastranya kepada para pembaca. Karena sejatinya setiap orang akan berbeda-beda menafsirkan karya sastra, di sini kritikus berperan sebagai penjaga gawang, penjaga buah pikiran pencipta agar para pembaca memiliki pedoman bahwa ‘inilah’ maksud sebenarnya dari karya sastra itu.
Tidak semua kritikus akan sama/sependapat dalam mengkritisi sebuah karya sastra. Karena memang karya sastra adalah sebuah karya yang kaya dan kompleks, yang sulit untuk diterjemahkan. Pencipta adalah seorang yang mengetahui mutlak maksud-maksud dan pesan-pesan tersirat yang tersaji dalam karyanya. Peran kritikus hanya membantu, memudahkan pembaca dalam menafsir sebuah karya sastra. Persoalan pesan mutlak hanya bisa keluar dari mulut penulisnya. Kritikus hanya menyampaikan berdasarkan kajian-kajian teoretis yang diikuti penjelasan detail dengan melibatkan faktor-faktor pendukung lain yang telah disebutkan di atas. Untuk menakar kadar kebenaran dan ketepatan sungguh tidak ada yang bisa.
Pemaparan di atas adalah peran kritik sastra atas pertanyaan, ketika buku sudah laris terjual untuk apa lagi adanya kritik sastra. Nah, bagaimana jika kita sedikit mundur menanyakan peran kritik sastra terhadap buku seorang penulis muda, belum terkenal dan belum laris terjual di pasaran.
Untuk menjawabnya mungkin kita bisa memakai pendapat Hudson (1955) yang menyatakan kritik sastra adalah penghakiman terhadap karya sastra yang dilakukan oleh seorang ahli atau yang memiliki kepandaian khusus untuk memudahkan pemahaman karya sastra, memeriksa kebaikan dan cacat-cacatnya dan menentukan pendapatnya tentang hal tersebut. Hal yang perlu disoroti dan digarisbawahi adalah untuk memudahkan pemahaman karya sastra. Kritik sastra membeberkan secara detail, istilah kasarnya menelanjangi karya sastra itu sehingga terpampanglah secara nyata dengan bahasa yang jelas dipahami masyarakat umum. Tujuannya adalah untuk menarik minat pembaca. Karena seperti yang kita ketahui, pembaca sastra dari karya ke karya adalah orang yang sama. Mengapa hal itu terjadi? Mungkin dengan berbagai alasan, tapi yang paling mencuat adalah sulitnya orang-orang (pembaca) memahami bahasa yang tersaji dalam karya sastra itu sendiri, yang membuat pembaca sukar menikmati apa yang dibacanya. Di sini sebenarnya ada tantangan bagi kritikus untuk memaparkan tiap-tiap karya sastra yang muncul agar mampu menarik sejumlah pembaca. Tujuannya adalah menciptakan atau mengajak orang-orang melek terhadap sastra.
 Bagi pembaca itulah sedikit penjelasan mengenai peran kritikus terhadap karya sastra. Bagi pencipta adanya kritik sastra memiliki pengaruh yang besar sebagai bahan pelajaran penting agar bisa menciptakan karya yang lebih baik lagi. Jadilah pencipta karya sastra yang terbuka atas kritikan. Karena sejatinya kritik yang dilontarkan terhadap karya sastra kita adalah sebuah uraian membangun yang berisi nilai-nilai agar kita semakin baik dalam menciptakan karya sastra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

Syarat Pindah Alamat Berlangganan Indihome

sumber: google   Masa kontrakan habis, mau pindah ke kontrakan baru, tapi gimana dengan layanan indihome yang sudah terpasang? Tentu saja kita ingin memindahkan perangkat tanpa harus ada embel-embel pasang baru agar terhindar dari biaya pasang yang bernilai Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah). Itulah kemauan kita, tapi berbeda dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak Telkom. Kejadian itu menimpa saya. Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Plaza Telkom Jalan Putri Hijau Medan dengan tujuan untuk memindahkan perangkat i ndihome saya dari kontrakan lama ke kontrakan baru. Setelah naik ke lantai 2 (kantor pelayanan) saya mengantre beberapa saat, tidak pakai selembaran kertas nomor antrean, katanya mereka pakai sistem digital, pelanggan hanya dipotret, dan nanti tiba gilirannya CS akan menghampiri (sebuah inovasi pelayanan dan langkah bijak untuk menghemat pemakaian kertas). Tiba giliran saya untuk mengadu persoalan saya. Namun, jawaban sang CS tidak bisa menenteramkan h...

[CERPEN] Akhir Pertemuan

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Radar Surabaya edisi Minggu, 5 Nopember 2017. 1) Di matamu semakin dalam kulihat ribuan penyesalan terbenam. Mengapa kau dan aku dipertemukan pada waktu yang membuat bisu. Tanda tanya itu tak pernah berubah sedikit pun menjadi titik. Sebelum akhirnya kita bertemu malam ini. Mengubur air mata yang masih tersisa di kelopak, yang kemarin tak kunjung mengering. Setelah kepastian itu benar-benar kudapatkan maka aku putuskan untuk pergi malam itu juga. Melepaskan semua harapan semu. Menanggalkan kisah-kisah indah yang kini hanya mengundang air mata jika dikenang. Sebab kau telah memilih jalan ini. Aku akan mengingat malam ini, bukan tentang malam terakhir kita bertemu bertatap-tatapan, bukan perihal malam di mana masih bisa kunikmati matamu dengan leluasa. Ini malam akan selalu kuingat sebab pada malam ini kujatuhkan seluruh air mata dan kenangan tentangmu hingga kering. Sampai tak ada lagi yang kuingat tentangmu, selain malam in...