Langsung ke konten utama

Mula- Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat


AKAN SEGERA TERBIT!!!

Buku Kumpulan Puisi Julaiha S. Penyair asal Medan yang kembali memeriahkan kancah Sastra Indonesia. "Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat".
Satu karya persembahan Obelia Publisher, sebuah penerbit baru di Kota Medan, yang memfokuskan untuk menerbitkan buku-buku Sastra pada khususnya, dan buku-buku non fiksi pada umumnya.
Sudah mulai dibuka sistem Pre Order dengan harga Rp. 40.000,- plus tanda tangan penyair. Bagi kawan-kawan mestilah menghadirkan buku ini sebagai referensi dalam dunia kesusastraan dan kepenyairan Indonesia khususnya Medan. Silakan hubungi kontak yang tertera pada gambar.



1.      Sejujurnya, baru kali ini saya berharap tersesat selamanya. Tersesat dalam kata-kata yang paling gaib, ada aura yang begitu kuat merasuki jiwa saat membaca sepilihan puisi dalam buku ini. Simbol-simbol bahasa betul-betul nikmat untuk terus diselusur, hingga hilang kesadaran sebab rimba diksi begitu membelukar, gelap-penuh misteri, ketakterdugaan. Jika memiliki nyali, bacalah buku ini dan mari tersesat bersama, hingga lupa pulang karena kegaiban kata menjelma ruh yang menghidupkan imaji dalam diri!
Dani Sukma Agus Setiawan, M.Pd
(Dosen Universitas Prima Indonesia, Penulis dan Pendiri Laman Sastramedan.com)

2.      Membaca Leha, saya menemukan puisi hawa yang sebenarnya. Lembut, santun dan terjaga diksinya. Gaya tuturnya pelan, tapi tetap meninggalkan pesan. Tidak ada kalimat heroik apalagi ledakan. Emosinya rapi, arah sajaknya mudah dipahami. Syarat makna. Jadi tidak anomali. Seperti kata Omi Intan Naomi dalam sajaknya: "aku mencintai karena aku mengerti”. Maka begitupun saya menangkap Julaiha. (Seruni Unie, penikmat puisi di Solo)

3.      Bagi saya, puisi-puisi Leha selain sebuah tutur khas sederhana yang memikat juga memiliki pesona kekhidmatan tersendiri. Ruang demi ruang dari balik jiwanya sengaja memotret banyak kegelisahan akan hari lalu atau esok. Kemolekan bahasa juga terkadang ditempuh Leha, sebagai penghormatan pada identitas diri dan totalitasnya sebagai penyair—pengrajin kata yang tekun. Ada keheningan, yang kadang disepakatinya sebagai pilihan. Ada juga gemuruh yang mencekam, meneror dengan diksi-diksi sesuka hatinya. Leha, mencatat begitu rentannya sebuah peristiwa di dalam puisi atau sesekali melatari puisi dengan penghayatan kelam namun tetap terang maknanya.
(Faisal Syahreza, Penyair)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

Syarat Pindah Alamat Berlangganan Indihome

sumber: google   Masa kontrakan habis, mau pindah ke kontrakan baru, tapi gimana dengan layanan indihome yang sudah terpasang? Tentu saja kita ingin memindahkan perangkat tanpa harus ada embel-embel pasang baru agar terhindar dari biaya pasang yang bernilai Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah). Itulah kemauan kita, tapi berbeda dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak Telkom. Kejadian itu menimpa saya. Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Plaza Telkom Jalan Putri Hijau Medan dengan tujuan untuk memindahkan perangkat i ndihome saya dari kontrakan lama ke kontrakan baru. Setelah naik ke lantai 2 (kantor pelayanan) saya mengantre beberapa saat, tidak pakai selembaran kertas nomor antrean, katanya mereka pakai sistem digital, pelanggan hanya dipotret, dan nanti tiba gilirannya CS akan menghampiri (sebuah inovasi pelayanan dan langkah bijak untuk menghemat pemakaian kertas). Tiba giliran saya untuk mengadu persoalan saya. Namun, jawaban sang CS tidak bisa menenteramkan h...

[CERPEN] Akhir Pertemuan

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Radar Surabaya edisi Minggu, 5 Nopember 2017. 1) Di matamu semakin dalam kulihat ribuan penyesalan terbenam. Mengapa kau dan aku dipertemukan pada waktu yang membuat bisu. Tanda tanya itu tak pernah berubah sedikit pun menjadi titik. Sebelum akhirnya kita bertemu malam ini. Mengubur air mata yang masih tersisa di kelopak, yang kemarin tak kunjung mengering. Setelah kepastian itu benar-benar kudapatkan maka aku putuskan untuk pergi malam itu juga. Melepaskan semua harapan semu. Menanggalkan kisah-kisah indah yang kini hanya mengundang air mata jika dikenang. Sebab kau telah memilih jalan ini. Aku akan mengingat malam ini, bukan tentang malam terakhir kita bertemu bertatap-tatapan, bukan perihal malam di mana masih bisa kunikmati matamu dengan leluasa. Ini malam akan selalu kuingat sebab pada malam ini kujatuhkan seluruh air mata dan kenangan tentangmu hingga kering. Sampai tak ada lagi yang kuingat tentangmu, selain malam in...