Langsung ke konten utama

[PUISI] Selamat Mengembara

Puisi-puisi ini diterbitkan di Harian Analisa Medan pada Rabu, 26 Oktober 2016. Dihadiahkan kepada sahabat saya Ferry Anggriawan. Walaupun sedikit terlambat karena upacara wisuda beliau diselenggarakan pada Kamis, 20 Oktober 2016. Selamat Wisuda, selamat mengembara arungi gelombang dunia. 

Oleh Alda Muhsi

SELAMAT MENGEMBARA /1

Satu tahun setengah lalu aku berada di posisimu saat ini
aku tahu bagaimana rasanya berdiri di sana
degup dada penuh haru akan bercampur decak bahagia menggebu
berpadu bayang-bayang masa lalu
perihal jatuh bangun mengejar ilmu
SSSK, Oktober 2016

SELAMAT MENGEMBARA /2
Setelah jubah itu kau lepas, segeralah kokohkan bahumu
kita akan berlayar dan kau tahu apa yang membentang
ada aral dan gelombang tak tentu akan menghadang
mengombang-ambingkan tubuhmu
SSSK, Oktober 2016

SELAMAT MENGEMBARA /3
Kita belum tahu akan berlabuh di mana
hanya di tanganmu sudah kau pegang pengarah jalan
agar tak salah melangkah
selamat mengembara, Kawan
perjuangan baru akan dimulai
SSSK, Oktober 2016

SELAMAT MENGEMBARA /4
Kau tengah berada di ambang gerbang kenyataan
yang penjaganya adalah nelayan-nelayan dalam lautan manusia
maka arungilah dengan seksama
hingga kau dapatkan paus, hiu, ataupun marlin
untuk kita santap bersama
SSSK, Oktober 2016






Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...