Langsung ke konten utama

DAMPAK STYROFOAM TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN


Oleh Alda Muhsi (dipublikasikan di Harian Analisa edisi Minggu, 10 April 2016)

Dalam temuan seorang peneliti yang bernama Otis Ray McIntire dari Dow Chemical, pada 1941 styrofoam mulai dijual di Amerika Serikat. Namun, pemakaian itu harus terhenti terhitung mulai 1 Juli 2015. (http://news.detik.com/bbc-world/2957427/kota-new-york-larang-penggunaan-styrofoam)
Adapun alasan dilarangnya produk tersebut karena berdampak buruk terhadap berbagai bidang. Misalnya terhadap kesehatan, terhadap lingkungan, dan juga terhadap laut. Tentu kita sudah mengetahui bahwa styrofoam terbuat dari bahan berbahaya yang dapat menyebabkan kanker. Untuk membuatnya, butiran-butiran polymer polystyrene dipanaskan dengan bahan kimia hingga mengembang. Kemudian dilakukan pendinginan dan pengendapan. Setelah pendinginan dan pengendapan, butiran yang sudah diperbesar itu dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk gelas, kemudian dipanaskan dan diperbesar lagi sampai cetakan terpenuhi dan semua butiran melebur dan menyatu. Produk akhir yang dihasilkan adalah bahan ringan yang mengandung 95% udara.
Di Indonesia, pada awalnya styrofoam hanya digunakan untuk melapisi bungkusan barang-barang elektronik. Tapi lama-kelamaan digunakan sebagai bahan pembungkus makanan. Mengingat harganya yang jauh lebih murah dan praktis. Namun, kesalahan seringkali terjadi jika hanya ingin meningkatkan keuntungan dalam sebuah bisnis. Kesehatan kini harus dipertaruhkan. Ketika makanan dan minuman dibungkus dengan styrofoam, bahan kimia yang terkandung di dalamnya akan dengan cepat berpindah. Terlebih pada makanan dan minuman yang panas. Dan, seperti yang kita lihat, di mana-mana styrofoam digunakan para pedagang untuk membungkus makanan yang baru selesai dimasak, dalam artian masakan yang masih panas-panasnya. Betapa miris, bukan?
Selain berbahaya terhadap manusia, styrofoam juga berdampak buruk terhadap lingkungan dan laut. Sifatnya yang sulit terurai membuat sampah-sampah styrofoam, yang hanya dapat sekali pakai, bertumpuk dan mencemari lingkungan. Timbunan rata-rata sampah di Indonesia mencapai 1 kg/orang dengan proporsi styrofoam sekitar 10%. Itu artinya masing-masing orang menyumbang 0,1 sampah styrofoam per hari. Coba bayangkan berapa juta jiwa penduduk negeri ini? Dan bayangkan juga seberapa banyak tumpukan sampah styrofoam yang tak terolah?
Lalu bagaimana jika limbah pembuatan styrofoam itu menuju laut? Dampak apa lagi yang akan terjadi? Menurut seorang profesor Biologi Kelautan dari University of California, Douglas McCauley, adanya busa-busa polystyrene yang mencemari dan merupakan kotoran terburuk bagi laut. Kemudian adanya ditemukan busa polystyrene yang bersarang di usus hewan laut, seperti penyu, yang menyebabkan penyumbatan mematikan.
Jadi, ada dua kerugian yang disebabkan oleh styrofoam dalam bidang kelautan, pencemaran dan terancamnya kehidupan biota laut. Dalam jangka lebih panjang, ini kembali mengancam manusia, bayangkan saja bagaimana ikan-ikan yang memakan racun itu bisa kembali menjadi menu santapan kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...