Sebuah Cerpen Alda Muhsi mengenang 12 tahun peristiwa Gempa dan Tsunami Aceh, 26 November 2004.
Cerita ini terinspirasi dari seorang tentara muda yang kehilangan anak dan istrinya akibat dihantam gelombang raksasa Tsunami. Tentara itu sebagai abdi negara tidak sempat untuk mencari mayat anak dan istrinya, perintah atasan adalah yang utama, ia terus saja mengevakuasi para korban sambil meneteskan air matanya. Ia yakin anak dan istrinya juga tengah menangis menanti pelukannya yang terakhir.
Cerpen ini masih orisinil, artinya belum dipublikasikan di media mana pun.
***
Cerita ini terinspirasi dari seorang tentara muda yang kehilangan anak dan istrinya akibat dihantam gelombang raksasa Tsunami. Tentara itu sebagai abdi negara tidak sempat untuk mencari mayat anak dan istrinya, perintah atasan adalah yang utama, ia terus saja mengevakuasi para korban sambil meneteskan air matanya. Ia yakin anak dan istrinya juga tengah menangis menanti pelukannya yang terakhir.
Cerpen ini masih orisinil, artinya belum dipublikasikan di media mana pun.
***
Kebanyakan orang menuntut keadilan,
tapi mereka lupa untuk berlaku adil. Dalam konteks beragama misalnya, seorang pemeluk
agama tertentu melakukan kesalahan, yang divonis buruk adalah agama yang
dianutnya. Seorang tentara diduga melakukan korupsi dan seluruh kesatuan tentara
dianggap komplotannya melakukan hal serupa. Dalam menilai, kebanyakan orang
sering menyamaratakan, padahal nilai merupakan urusan masing-masing individu.
Memangnya ada agama yang mengajarkan keburukan? Memangnya tidak ada pemeluk
lain yang melakukan kebaikan-kebaikan? Memangnya seluruh tentara sudah pasti
bertindak korupsi? Memangnya tidak ada tentara bersih atau bahkan berbuat baik,
menjadi teladan? Itulah kita, manusia sering melupakan kebaikan-kebaikan
seseorang, tapi menghapal mati kesalahan-kesalahan seseorang yang kemudian
disamaratakan bahwa itu adalah kesalahan kelompok yang sama profesinya.
Orasi
itu ia dengar dekat tenda pengungsian. Setelah beberapa hari terjadi bentrok
antara warga dan tentara yang mengamankan proses evakuasi. Malam saat itu jauh
berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Ketika ratusan prajurit tentara turun
membantu pengevakuasian korban meninggal ataupun yang masih hidup. Mencari
identitas mereka dan membersihkan kota yang sudah porak poranda. Malam saat itu
menjadi semakin tegang karena salah seorang komandan mereka diduga melakukan
penggelapan dana bantuan. Warga yang mendengar kabar tersebut dengan cepat
tersulut sumbu amarah.
Gemuruh
dari jauh terdengar. Takbir menggema. Seorang perempuan bertubuh gempal menunjukkan
koran skala nasional yang entah bagaimana caranya bisa sampai di sana.
"Bagaimana
koran setenar itu dapat memuat berita kabur?"
"Jangan
selalu bawa-bawa politik dalam tiap keadaan."
"Sangat
sinting jika air mata ini hanya dijadikan umpan politik"
Apakah
selamanya negeri ini hanya tentang politik? Bahkan bencana pun dijadikan waktu
yang tepat untuk menarik simpati. Apa benar ini artinya demokrasi itu?
“Sabar,
jangan gegabah, kita belum mengetahui kebenaran dengan pasti.”
“Mau
sabar bagaimana lagi, pantas saja bantuan makanan untuk kita terhambat.
Tenda-tenda pengungsian pun sudah tak memadai. Ternyata dia dalangnya.”
“Kabar
itu hanya sebatas kabar media komersial. Bisa jadi berita dibuat untuk
kepentingan sepihak. Sebaiknya kita dapat memilah-milah berita media, soalnya
kebanyakan media suka memelintir berita dan mengabarkan yang bukan fakta. Media
sudah menjadi alat pengadu domba.”
“Tidak
bisa, pokoknya ini sudah merupakan bukti yang kuat. Kita harus melawan, kita
buat pergerakan!!!”
“Sabar
kawan-kawan. Ingatlah, kalau tidak ada dia mungkin kita dan saudara-saudara
kita sudah menjadi mayat sebagai hidangan cacing dan lalat.”
Tapi
para warga tidak mendengarkannya. Suara itu seperti terbenam oleh bara dendam
di dada mereka, yang jelas semakin berkobar-kobar.
Seperti
tengah diberitakan, kosongnya posisi Panglima TNI saat ini membuat banyak
tentara berpangkat membuat citra baik agar dilirik presiden kemudian diangkat
dan dilantik untuk menduduki posisi tersebut. Seperti halnya masa pemilu, masa
kampanye, saat ini media beramai-ramai menyoroti kebaikan jagoannya dan
keburukan pesaingnya untuk ditampilkan pada khalayak. Karena dengan begitu
masyarakat akan terpengaruh dengan siaran-siaran yang ditayangkan.
***
Setelah
mendengar kabar tentang Tsunami yang melanda daratan Aceh, ia segera
mengumpulkan pasukannya untuk diterjunkan sebagai bala bantuan.
“Kita
turut bersedih dengan peristiwa saudara-saudara kita di Aceh sana. Oleh karena
itu, atas nama kemanusian kita siap meluncur untuk membantu evakuasi!”
“Siaaapppp!”
teriak seluruh prajurit dengan dada tegap penuh keyakinan.
“Begitulah
caranya agar tetap terjaga persatuan dan kesatuan negeri ini.”
***
Orang-orang tidak mengetahui
rintangan apa yang dihadapi seorang yang telah mereka tuduh melakukan tindak
korupsi itu. Mereka juga tak pernah paham bagaimana ia menyusun seluruh
prajurit dengan rapi dalam menjalankan evakuasi. Mereka dengan mudah termakan
berita. Mereka hanya tahu dan membaca apa yang tersaji di koran itu. Mereka tak
pernah membaca apa yang tertulis di balik udara-udara yang mereka hirup dan
hembus saat ini. Memang begitulah sejati, orang-orang yang tengah dilanda
musibah, orang-orang yang tengah rapuh, sangat mudah dirasuki oleh
berita-berita, terlebih berita yang semakin menyudutkan. Yang kemudian membuat
mereka mudah terpancing amarah.
Pada
akhirnya terjadi perang antara tentara dan rakyat Aceh yang merasa uangnya
dicuri. Mereka baku hantam sangat lama. Mereka melempari para tentara dengan
beragam barang tumpul. Korban-korban berjatuhan dari kedua kubu.
Inilah
buah demokrasi itu. Kebebasan berpendapat dan perlindungan undang-undang dalam
melakukan aksi unjuk rasa. Walau aksi mereka tak pernah meminta ijin terlebih
dahulu, tapi tetap aksi itu berjalan seperti aksi-aksi yang lain bahkan lebih
ganas dan beringas. Tak pernah ada aksi yang berjalan damai, apa lagi bara
dendam telah berkobar dan akan semakin marak dengan sekali kipas orasi lantang.
Ujungnya akan menjelma anarkis juga.
“Lepaskan
kami dari jerat kepentingan pribadi!”
“Tanah
kami haram bagi para koruptor!”
“Cukuplah
Tsunami yang menghantam kami, jangan biarkan air mata mengalir lagi.”
“Kehilangan
sanak famili telah merobohkan kami, tolong jangan selewengkan bantuan untuk
kami.”
“Kami
ikhlas Tuhan mengambil segalanya, tapi pencuri harus diadili!”
Setelah teriakan-teriakan aspirasi
yang berdatangan dari hati para warga itu berhasil dikeluarkan dengan lancar,
mereka kemudian melempari benda apa saja ke arah tentara-tentara yang berjejer
rapi. Hingga banyak yang bubar, berlarian, berkeliaran mencari tempat
persembunyian.
Padon,
seorang tentara muda tak sempat melarikan diri hingga terkena lemparan batu
runcing di kepalanya. Ia tumbang beriringan dengan mengalirnya darah dari
kepalanya.
***
Ketika
pagi, di sebuah barak tentara, lelaki tua yang bertugas sebagai perawat tentara
itu melihat Padon terkapar tanpa napas. Ia meyakini bahwa nyawa Padon tak dapat
diselamatkan karena telah kehabisan banyak darah. Dilihatnya wajah malang itu. Matanya
basah seperti mengeluarkan air terus-menerus. Ia jadi teringat pada suatu malam
pernah berbincang dengan seorang tentara.
“Pak,
dari mana asalnya?”
“Saya
asal Medan.”
“Oh,
kangen rumah ya? Kok saya lihat dari tadi murung terus.”
“Bukan,
Wak. Saya sedih sekali”
“Ya,
kita semua juga sedih, Pak. Cuma mau bagaimana lagi, namanya juga takdir
Allah.”
“Iya,
Wak, benar sekali, tapi yang buat saya semakin sedih adalah saya dapat kabar
dari orang tua saya kalau istri dan anak saya jadi korban meninggal akibat
tsunami ini.”
“Innalillahi… mayatnya udah ketemu, Pak?”
“Sampai
sekarang belum ditemukan, Wak. Saya merasa berdosa, Wak, malu sama Tuhan,
bahkan bangkai istri dan anak saya saja tidak boleh saya cari.”
Mata
lelaki itu berkaca-kaca. Begitu kilau tersorot lampu. Dadanya bertabur haru.
Entahlah, terkadang kita mengutuk profesi seseorang hanya karena satu orang
yang berbuat salah. Barangkali benar, gara-gara nila setitik rusak susu
sebelanga.
“Saya
sering membayangkan wajah mereka berputar-putar di langit, memanggil-manggil
nama saya dengan air mata yang terus mengalir di pipi.”
Lelaki
tua itu terus terkenang dengan kata-kata tentara yang kehilangan anak istri
setelah nyawa mereka direnggut tsunami.
“Saya
sering membayangkan wajah mereka berputar-putar di langit, memanggil-manggil
nama saya dengan air mata yang terus membasahi pipi dalam perjalanan menuju
surga.”
***
Lelaki
tua itu menceritakan segala hal yang tak pernah kutanya. Mungkin itulah
satu-satunya peristiwa yang sangat menyentuh hatinya, yang jelas-jelas terjadi
di hadapan matanya. Bukan peristiwa menyentuh yang didengar dari bibir orang
banyak. Ia meminum kopinya, wajahnya berubah seperti wajah menelan dan menahan
kepahitan.
Setelah
mendengar cerita lelaki tua itulah aku tersadar bahwa mental prajurit tidak
akan sekerdil itu. Disiplin, tegas, bertanggung jawab, setia pada sumpah,
mewujudkan persatuan dan kesatuan telah terpatri di dada mereka, tepat di balik
seragam yang kian membuat mereka gagah. Dan di balik baret yang tersimpan
keanggunan. Setelah bercerita dengan lelaki tua itu pula maka aku tersadar
betapa layaknya seorang militer memimpin negeri ini. Sebab mereka telah
terlatih menjadi pemimpin yang dengan pasti mendahulukan kepentingan orang
banyak di atas kepentingan pribadi.
Setelah
bercerita dengan lelaki tua itu aku harus kembali ke kantor redaksi untuk
menulis sebuah berita terbitan besok. Sampai hari-hari setelah itu aku tak
pernah mendengar kepastian tentang Komandan Tentara yang korupsi itu, malah
yang kudengar minggu depan adalah hari pelantikannya menjadi Panglima TNI,
sebuah jabatan tentara paling tinggi di negeri ini.
Medan, Desember 2016

Komentar
Posting Komentar