Pertama kali dipublikasikan oleh Portal Berita Antara Sumut, Minggu, 17 November 2013
Oleh : Ferry Anggriawan
dan Alda Muhsi
Langkat,
(Antara Sumut).- Bali, sudah tidak asing lagi didengar oleh seluruh warga
Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Bali terkenal dengan keindahan
pantainya dan kebudayaan hindu yang melekat, seperti adanya candi, pura, dan
relief-relief ukiran pada bangunan.
Kini
pesona kebudayaan Bali dapat kita temukan khususnya di daerah Sumatera Utara,
yaitu tepatnya di Desa Tiga Tusam, Kampung Bali Kec. Wampu Kab. Langkat.
Kampung Bali adalah sebuah perkampungan pedalaman yang berada 40 kilometer dari
Kec.Selesai, yang dihuni 35 kepala keluarga asal Pulau Bali. Maka disebutlah
dengan nama Kampung Bali.
Kampung
Bali terbentuk pada tahun 1973. Awalnya perkampungan itu hanyalah hutan
belantara yang terbentang di pinggiran Kabupaten Langkat. Kemudian terjadi
transmigrasi penduduk. TNI
membawa penduduk asli Bali ke Desa Tiga Tusam tersebut bertujuan untuk
pemekaran hutan, dengan imbalan memberikan tanah seluas 2 hektar untuk setiap
kepala keluarga. Hingga akhirnya hutan belantara tersebut kini menjadi
perkampungan penduduk Bali.
Hal
itu juga diungkapkan oleh I Wayan Keina (68) pengurus Pura Penataran Agung
Widya Loka Nata, pada 13 Nopember 2013.
Kampung
ini dahulu adalah hutan belantara, pada tahun 1973 TNI membawa 70 kepala
keluarga penduduk Bali ke pulau Sumatera untuk bekerja dalam pemekaran hutan.
35 kepala keluarga ditempatkan di Pekan Baru, sedangkan 35 kepala keluarga yang
lain ditempatkan di Sumatera Utara tepatnya di Desa Tiga Tusam ini. Dengan
imbalan TNI akan memberikan lahan seluas 2 hektar untuk setiap kepala keluarga.
Untuk
menuju kampung Bali kita bisa melewati dua desa. Yaitu melalui Desa Mancang
dari arah Stabat. Dan bisa juga melalui Desa Selayang dari arah Kec.Selesai.
Selain itu, kita harus menyeberangi aliran sungai Wampu dengan menggunakan
getek -sebuah kapal penyeberangan- dengan tarif Rp. 2000/motor, Rp. 10.000/mobil,
dan Rp. 15.000/truk. Kita dapat menempuh waktu 2,5 jam dari pusat kota Medan.
Kita
dapat melihat pesona Bali yang sesungguhnya dan kentalnya kebudayaan Hindu yang
melekat di kampung ini. seperti adanya Pura (tempat ibadah umat Hindu), Sangah
(tempat ibadah pribadi) yang dibangun di depan rumah setiap warga, dan Penjor
(janur bagi suku Jawa) diletakkan di depan rumah untuk memperingati hari
Galungan.
Mardan
Sitepu (43) pengunjung dari Sei Bingei Binjai mengungkapkan, Saya bukan warga
kampung Bali ini, tapi kampung Bali ini sudah seperti kampung saya sendiri,
karena kampung ini sangatlah unik, tentram, damai, dan kampung ini hanya satu-satunya
yang ada di Kab.Langkat. Sehingga saya sering berkunjung ke kampung Bali ini.
Namun
sangat disayangkan, pelestarian Tarian khas Bali, seperti Tari Kecak dan Tari
Barong, perlahan mulai hilang, disebabkan oleh kesibukan warga yang
kesehariannya bekerja sebagai petani kelapa sawit dan karet.
Perhatian
pemerintah terhadap kampung Bali ini juga sepertinya masih sangat minim.
Terlihat pada akses jalan menuju kampung Bali yang sangat memprihatinkan. Jalan
bebatuan, dan berlumpur sejauh 30 kilometer harus ditempuh penduduk setiap
hari. Serta tidak adanya akses jembatan untuk menyeberangi sungai. Karena di
saat musim hujan, aliran sungai Wampu sering terjadi banjir. Jika aliran sungai
banjir, getek yang digunakan untuk menyeberang tidak dapat beroperasi karena
terlalu berbahaya. Serta tidak adanya pamflet petunjuk lokasi Kampung Bali ini
membuat pengunjung yang datang mengaku sangat kebingungan.
Letaknya
yang jauh dari hiruk-pikuk kota memang membuat ketersediaan sekolah, rumah
sakit dan pasar sangat terbatas. Hal itu diakui oleh I Wayan Keina, Kampung
Bali ini memang jauh di pedalaman, sehingga sekolah, rumah sakit, dan pasar
sangat jauh, bahkan sudah di lain kecamatan. Di sini cuma ada puskesmas,
jaraknya juga cukup jauh, kira-kira 10 kilometer. Sekolah yang ada cuma SD dan
SMP, jadi kalau mau sekolah SMA, kebanyakan ke Kecamatan Selesai atau di
Binjai.
Komentar
Posting Komentar