Langsung ke konten utama

[PUISI] Doa yang Berkibar di Langit Desember

Menyaksikan keadaan Indonesia yang belakangan ini bersitegang dengan berbagai kasus, terutama kasus penistaan agama (SARA). Saya menuliskan puisi ini yang kemudian diterbitkan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 14 Desember 2016. Mari kita berdoa untuk kedamaian negeri tercinta.

Oleh Alda Muhsi

DOA YANG BERKIBAR DI LANGIT DESEMBER /1

Berpuluh malam kau duduk sendiri. Menenun doa-doa.
di sepanjang air mata yang kau jatuhkan di belantara negeri
sudah lama sekali tak kurasa angin surgawi
selimuti bumi pertiwi
gemuruh kerinduan menemani harapan
SSSK, Desember 2016

DOA YANG BERKIBAR DI LANGIT DESEMBER /2

Setelah selesai doa-doa ditenun
maka kau bentangkan ia di atas peraduan
lalu bersama ratusan bahkan ribuan orang kau layangkan, kau terbangkan ke angkasa
lihatlah langit luas itu, di sana berkibar doa-doa
mengharap kesembuhan negeri
SSSK, Desember 2016

DOA YANG BERKIBAR DI LANGIT DESEMBER /3

Pada hari yang jiwanya begitu kuat
lantunan dan senandung pilu berganti
bisikan-bisikan Tuhan, kita tengadahkan tangan. Bermunajat, menyembah tanpa hujah.
Tuhan, perkenankanlah.
SSSK, Desember 2016

DOA YANG BERKIBAR DI LANGIT DESEMBER /4

Ya Tuhan pemilik damai kami
hembuskanlah kesejukan pada hati
untuk memadamkan bara dendam
yang bersemayam
SSSK, Desember 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...