Langsung ke konten utama

HENTIKAN MEMBAKAR SAMPAH

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Analisa rubrik Lingkungan edisi Minggu, 21 September 2014.
Sumber: Google
 Oleh Alda Muhsi

Ketika pagi datang dan kita membuka mata tentu saja ada harapan untuk dapat menikmati kesegaran dan kesejukan udara. Menghirup udara bersih demi menjaga napas kehidupan. Memelihara paru-paru agar tetap memerah segar. Barangkali hal demikian hanya akan didapatkan di wilayah pegunungan yang dipadati pohon-pohon pemberi oksigen. Namun, bagaimana kehidupan di perkotaan, akankah bisa menikmati hal serupa? Jawaban ada di tangan kita, masyarakat penghuni kota.
Jika dilihat dari kenyataan sekarang ini, rasanya jauh untuk mencapai keadaan seperti itu. Ini merupakan suatu masalah, di mana kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapakan. Apa lagi melihat banyaknya produksi sampah setiap hari, baik itu sampah industri maupun sampah rumah tangga. Impian yang semula sudah dibayang-bayangkan seakan kecil kemungkinan untuk dicapai. Bisa saja kita menjaga lingkungan ini agar bebas dari pencemaran dan mendapati pagi yang sejuk, yang apabila dapat dijaga akan berlangsung terus-menerus. Salah satunya adalah dengan cara pengelolaan sampah itu sendiri. Dan janganlah sekali-kali untuk melakukan pembakaran terhadap sampah-sampah yang ada.
Peran pemerintah dalam pengelolaan sampah terbilang sudah cukup bermanfaat, dengan adanya petugas kebersihan dari yang kecil, penyapu jalan, truk sampah, mobil penyapu jalan, dan tong-tong sampah yang disediakan di setiap sudut jalan. Hal itu dilakukan begitu efektif dan tidak sia-sia sehingga koa Medan tercinta meraih piala adipura. Namun, akankah itu hanya sebatas untuk mendapatkan adipura saja? Tentu saja tidak, itu adalah hal yang harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hidup tanpa polusi dan pencemaran.
Masalah terbesar dan terberat yang harus dihadapi adalah mengenai pengelolaan sampah. Sepatutnya diperlukan kesadaran tiap-tiap individu untuk menjaga sampahnya, dengan maksud mengatur jumlah produksi sampah, mengelola sampah dengan baik, dengan menempatkan ke dalam tempat yang telah disediakan.
Untuk menghindari berbagai macam dampak kerugian dari pengelolaan sampah yang tidak baik, yang sangat penting untuk diperhatikan adalah tentang pembakaran sampah. Bakar sampah merupakan rutinitas kehidupan rumah tangga. Kalau dulu bakar sampah rutin dilakukan pada sore hari, sekarang ini malah sudah bertambah parah, ada juga yang melakukannya pada pagi hari. Di manakah letaknya kesadaran? Apakah kemauannya untuk menghancurkan bumi beserta seluruh isinya?
Kenapa bakar sampah dilarang? Tentu saja karena menyebabkan pencemaran udara, menghasilkan karbon dioksida, merusak lapisan ozon, dan membuat cuaca menjadi tidak menentu. Yang paling penting adalah dampaknya bagi kesehatan, adanya wabah penyakit yang akan dibawa, yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).
Larangan membakar sampah sudah diatur pemerintah dalam undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, Undang-undang (UU) nomor 18 tahun 2008 tentang Persampahan.
Adanya larangan, adanya seruan untuk mengelola sampah dengan baik, adanya peringatan untuk tidak membakar sampah, namun kenapa masih dilakukan? Atau ingin menunggu sampai kapan? Kita sebenarnya telah sama-sama paham. Untuk itu sadarilah. Bukan tak banyak kegiatan sosial yang telah memberikan pendidikan kepada kita bahwa bahaya sampah, bahaya bakar sampah, upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir sampah, dan sebagainya. 
Kita punya impian untuk memanjangkan umur bumi. Menjaga napasnya agar tetap segar. Menjaga kebersihan dan kesejukannya. Hentikanlah bakar sampah. Pungutlah sampah-sampah yang dijumpai oleh mata-mata kita, tanpa peduli sebesar apa atau sekecil apa bentuk sampah itu, dan hilangkah rasa malu, ganti dengan dada penuh rasa bangga mencintai kebersihan lingkungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

Syarat Pindah Alamat Berlangganan Indihome

sumber: google   Masa kontrakan habis, mau pindah ke kontrakan baru, tapi gimana dengan layanan indihome yang sudah terpasang? Tentu saja kita ingin memindahkan perangkat tanpa harus ada embel-embel pasang baru agar terhindar dari biaya pasang yang bernilai Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah). Itulah kemauan kita, tapi berbeda dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak Telkom. Kejadian itu menimpa saya. Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Plaza Telkom Jalan Putri Hijau Medan dengan tujuan untuk memindahkan perangkat i ndihome saya dari kontrakan lama ke kontrakan baru. Setelah naik ke lantai 2 (kantor pelayanan) saya mengantre beberapa saat, tidak pakai selembaran kertas nomor antrean, katanya mereka pakai sistem digital, pelanggan hanya dipotret, dan nanti tiba gilirannya CS akan menghampiri (sebuah inovasi pelayanan dan langkah bijak untuk menghemat pemakaian kertas). Tiba giliran saya untuk mengadu persoalan saya. Namun, jawaban sang CS tidak bisa menenteramkan h...

[CERPEN] Akhir Pertemuan

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Radar Surabaya edisi Minggu, 5 Nopember 2017. 1) Di matamu semakin dalam kulihat ribuan penyesalan terbenam. Mengapa kau dan aku dipertemukan pada waktu yang membuat bisu. Tanda tanya itu tak pernah berubah sedikit pun menjadi titik. Sebelum akhirnya kita bertemu malam ini. Mengubur air mata yang masih tersisa di kelopak, yang kemarin tak kunjung mengering. Setelah kepastian itu benar-benar kudapatkan maka aku putuskan untuk pergi malam itu juga. Melepaskan semua harapan semu. Menanggalkan kisah-kisah indah yang kini hanya mengundang air mata jika dikenang. Sebab kau telah memilih jalan ini. Aku akan mengingat malam ini, bukan tentang malam terakhir kita bertemu bertatap-tatapan, bukan perihal malam di mana masih bisa kunikmati matamu dengan leluasa. Ini malam akan selalu kuingat sebab pada malam ini kujatuhkan seluruh air mata dan kenangan tentangmu hingga kering. Sampai tak ada lagi yang kuingat tentangmu, selain malam in...