Khusus untuk mengenang Ibu Kita Kartini, puisi ini saya tulis dan pertama kali diterbitkan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 16 April 2017. Puisi-puisi yang diterbitkan yaitu Kartini Ibu Kita /1,/2, dan /3. Untuk puisi Kartini Ibu Kita /4 tidak mendapat tempat. Hehehe. Akhir kata, selamat membaca. Semoga berkenan.
KARTINI IBU KITA /1
PUISI-PUISI
KARYA ALDA MUHSI
KARTINI IBU KITA /1
Kartini
dalam gelap ibu selalu berbisik
kita perempuan kita perempuan
kita merdeka kita merdeka
dalam remang lampu jalan tertutup daun-daun ranting yang menjulang
dalam terang cahaya bulan menjadi redup dipeluk angan
dalam gelap ibu selalu berbisik
kita perempuan kita perempuan
kita merdeka kita merdeka
dalam remang lampu jalan tertutup daun-daun ranting yang menjulang
dalam terang cahaya bulan menjadi redup dipeluk angan
SSSK, April 2017
KARTINI
IBU KITA /2
Kartini
dalam selimut ibu kerap berteriak
membongkar suara agar nyala keluar
nyaring membingkai tubuh-tubuh lemah
seperti bara yang memanaskan panggangan
mengobar cinta di atas tempias panas
dalam selimut ibu kerap berteriak
membongkar suara agar nyala keluar
nyaring membingkai tubuh-tubuh lemah
seperti bara yang memanaskan panggangan
mengobar cinta di atas tempias panas
SSSK, April 2017
KARTINI IBU KITA /3
KARTINI IBU KITA /3
Kartini
takkah selamanya gelap memanjang pada tiang bendera
pun tiada malam yang lupa pulang
adamu serupa pagi dengan embun sejuk
membawa pelita yang terik memancar mata
takkah selamanya gelap memanjang pada tiang bendera
pun tiada malam yang lupa pulang
adamu serupa pagi dengan embun sejuk
membawa pelita yang terik memancar mata
SSSK, April 2017
KARTINI IBU KITA /4
KARTINI IBU KITA /4
Kartini
dalam kegelapan ibu selalu mengeja
jalan panjang anak-anakmu kelak
hingga patah tubuhmu hilang seluruh asamu
terbanglah menjadi dian di angkasa
ibuku, arungi takdir memenjarakan kebodohan
kebiadaban dan ketidakadilan
aku menjunjung abdi abadi
dalam kegelapan ibu selalu mengeja
jalan panjang anak-anakmu kelak
hingga patah tubuhmu hilang seluruh asamu
terbanglah menjadi dian di angkasa
ibuku, arungi takdir memenjarakan kebodohan
kebiadaban dan ketidakadilan
aku menjunjung abdi abadi
SSSK, April 2017
Komentar
Posting Komentar