Artikel ini saya buat atas dasar keprihatinan saya terhadap realitas. Di mana pohon-pohon ditebang dan digantikan dengan tower-tower signal. Katanya untuk memodernkan dan memajukan kota. Tapi sayangnya mengapa harus pohon? Apakah kita lupa pohon adalah napas kita.
Pertama kali dipublikasikan di Harian Analisa rubrik Lingkungan edisi Minggu, 21 Februari 2016.
Oleh Alda Muhsi
Teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat setiap tahunnya. Bukan hanya di negara-negara barat, bahkan kini sudah merambah ke Indonesia. Hal itu tentu saja membawa dampak baik dan dampak buruk bagi kehidupan kita. Dampak baiknya adalah kita bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia, dengan mengakses berbagai gadget yang kita pegang. Dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membuat dunia ada dalam genggaman kita. Dampak baik kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terdapat pada bidang pendidikan,ekonomi, dan sektor pemerintahan, dengan diadakannya sistem online, yang memudahkan akses kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Namun, sebenarnya ada dampak buruk yang tidak semestinya kita abaikan, yaitu dalam bidang lingkungan.
Teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat setiap tahunnya. Bukan hanya di negara-negara barat, bahkan kini sudah merambah ke Indonesia. Hal itu tentu saja membawa dampak baik dan dampak buruk bagi kehidupan kita. Dampak baiknya adalah kita bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia, dengan mengakses berbagai gadget yang kita pegang. Dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membuat dunia ada dalam genggaman kita. Dampak baik kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terdapat pada bidang pendidikan,ekonomi, dan sektor pemerintahan, dengan diadakannya sistem online, yang memudahkan akses kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Namun, sebenarnya ada dampak buruk yang tidak semestinya kita abaikan, yaitu dalam bidang lingkungan.
Kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi sering kali membuat kita mengabaikan hak-hak
lingkungan hidup. Dengan keberadaan alat-alat yang serba canggih misalnya, kita
seolah melupakan kewajiban menjaga kelestarian alam. Salah satunya dengan
adanya handphone, perusahaan provider harus menanam atau membangun tower agar menjangkau frekuensi signal
mereka. Itu mengakibatkan pohon-pohon harus ditebang dan kawasan di mana tower itu berdiri terancam dengan
kekuatan signal yang dapat merusak kesehatan manusia, terlebih bayi dan
anak-anak.
Berkaitan
dengan hal itu, baru-baru ini juga gencar terdengar jaringan wifi dengan
kecepatan 4G yang memungkinkan kita memakai internet tanpa batas, tanpa harus
menunggu.
Perkembangan
di bidang internet tersebut semakin mengkhawatirkan kita di bidang kesehatan
dan lingkungan. Mengapa demikian?
Sebuah
penelitian dari Universitas Wageningen, Belanda mengungkapkan bahwa pepohonan
yang ditanam berdekatan dengan router
nirkabel mengalami kerusakan pada kulit batangnya dan sebagian dedaunannya
mati. Penelitian tersebut menggunakan 20 pohon ash atau fraxinus dengan
memberikan berbagai tingkat radiasi selama tiga bulan. Dan ternyata pohon yang
terpapar sinyal wifi menunjukkan gejala di atas.
Bisa
dibayangkan bagaimana pengaruh radiasi signal wifi tersebut terhadap manusia?
Saat
ini orang-orang bukan lagi menanam bibit-bibit unggul untuk melakukan
penghijauan kota. Saat ini orang-orang bukan lagi menebar benih-benih andal
untuk melestarikan lautan kita. Saat ini orang-orang menanam dan menebar
satelit di mana-mana, untuk menghasilkan signal-signal wifi yang semakin
melemahkan daya pikir kita.
Jika
saja pohon menghasilkan signal wifi,
sudah pasti banyak orang berlomba-lomba untuk menanamnya, menyiramnya,
memeliharanya hingga subur. Setiap rumah akan memiliki banyak pohon yang
rimbun, besar, lebat daunnya, dan tinggi. Tapi sayangnya, pohon hanya
menghasilkan udara segar untuk kita bernapas. Itu pun sangat sulit untuk kita
sadari. Entah memang tidak sadar, atau pura-pura tidak menyadari, atau bisa
jadi signal wifi telah melumpuhkan dan merusak daya pikir kita sebagai manusia
yang hidup karena ada lingkungan sehat.
Bumi
semakin tua, seharusnya kita dapat menjaganya agar berumur panjang. Saatnya
kita membalas jasanya yang telah memberikan kehidupan kepada kita. Jika kita
tidak bisa menanam satu pohon yang memberikan kehidupan kepada dua orang, maka setidaknya
kita tidak merusak dan menebang pohon tersebut. Karena dengan menebangnya sama
saja kita membunuh bumi, membunuh diri sendiri, dan membunuh kehidupan manusia
lainnya.
Komentar
Posting Komentar