Langsung ke konten utama

[PUISI ALDA MUHSI] AWAL JULI

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 5 Juli 2017.
AWAL JULI /1
Pada batas awal Juli yang gelisah
dibasahi butiran hujan yang tergenang
pada empat kelopak mata kita
akulah yang kerap berbaris
menanyakan kepulangan
memaksa garis terputus
untuk menjemput keinginan
tak seringan matamu berkedip
bahkan lidahku terasa berat, membatu
mengeja kerinduan atas namamu
SSSK, Juli 2017

AWAL JULI /2
Ada yang berbeda kali ini
tanah yang dingin menjerat langkah
aku tiba pada perhentian
mencari-cari wajahmu
di balik sela daun-daun yang berangin
daun pintu yang cokelat
daun jendela yang kuning
daun-daun mangga yang perlahan gugur
dan daun telingaku, yang selalu memperdengarkan namamu
SSSK, Juli 2017

AWAL JULI /3
Kita telah tiba tanpa aba-aba
pada jarak yang semakin jauh
membubungkan pertemuan
di atas bayang
di atas layang
di atas udara yang bergumul
membentangkan terik
kita tiba pada waktu yang singkat
yang semakin melejitkan rindu
hingga dentuman-dentuman dada
yang tersiar menuju dua kota
SSSK, Juli 2017

AWAL JULI /4
Awal Juli kau akan pulang
mengetuk dadaku yang rapuh
lalu kita akan bersenang-senang
melupakan ribuan gaduh yang bergemuruh
SSSK, Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...