Langsung ke konten utama

[ESAI] Paham Animisme dalam Cerpen Lelaki Ompol Karya Encep Abdullah

Esai saya membahas cerpen Lelaki Ompol karya Encep Abdullah. Pertama kali dipublikasikan oleh Harian Sumut Pos edisi Minggu, 20 Agustus 2017. Silakan membaca, barangkali dapat berdiskusi.

Foto oleh Annisa Tri Sari


Melihat judul cerpen Encep Abdullah, yang sekaligus menjadi judul buku terbarunya, Lelaki Ompol, membawa imajinasi kita terbang ke dua arah. Setidaknya itu yang sepintas terjadi kepada saya. Lelaki yang suka mengompol. Itulah yang pertama kali ada dalam benak saya. Ternyata salah. Lelaki Ompol adalah wujud seorang lelaki tua yang suka meminum ompol cucunya sebagai resep awet muda yang didapatkannya melalui mimpi.
Seperti kisah-kisah yang lain, Encep Abdullah sepertinya senang menawarkan hal-hal absurd ke dalam cerita yang ia buat. Tentu saja hal-hal absurd yang dapat diterima karena disertai uraian-uraian yang membuat kita memahaminya. Hal-hal yang secara nyata tidak mungkin terjadi tapi pada suatu kesempatan (keadaan) itu bisa saja terjadi.
Hal absurd yang dituangkan menjadi semakin kuat ketika dilengkapi oleh warisan kebudayaan (tradisi) leluhur. Di mana pada suatu masa, meyakini kekuatan mistis dari sebuah pohon. Atau yang secara universal dikenal dengan paham animisme. Animisme merupakan suatu paham kepercayaan kepada makhluk halus (roh) yang tersimpan dalam setiap benda di bumi, misalnya gua, pohon, batu, dan lain sebagainya. Karena roh yang dipuja tersimpan dalam benda-benda tersebut maka harus pula disembah dan dihormati. Itulah sebagai bentuk kepasrahan dan keberserahan diri penganutnya. Paham animisme pertama kali muncul di kalangan manusia primitif. Jauh sebelum masuknya peradaban keagamaan di Indonesia.
Dalam cerpen Lelaki Ompol, Encep menghadirkan kembali paham animisme melalui tokoh utama, yaitu lelaki tua, yang memuja sebuah pohon beringin di samping rumahnya. Hal ini menjadi sebuah pengingat kepada pembaca bahwa paham animisme pernah, bahkan sampai sekarang masih terasa keberadaannya di negeri ini. Sebuah paham yang melekat memang sulit dihilangkan, dan memang tidak ada salahnya untuk diingat sebagai memori sejarah mengenai perkembangan peradaban. Paham animisme juga mempercayai bahwa benda yang disembah dapat membantu mereka memelihara semangat, menghindarkan dari gangguan roh jahat, dan juga membantu dalam kehidupan sehari-hari. Dan dalam cerpennya Encep mempertegas dalam kutipan berikut.
Malam itu, Lelaki Tua sudah siap-siap keluar menuju pohon beringin dekat rumahnya. Dengan beberapa jamuan atau sesajen yang ia bawa kemudian ditaruh di bawah beringin pohon itu. Tidak lupa pula sebotol ompol bayi itu ia siram ke pohon – sisa dari satu galon.
“Mbah, malam ini purnama sudah bulat sempurna. Seperti yang Mbah katakana dalam mimpi. di setiap bulan purnama, hamba boleh minta apa pun dengan segala persyaratan atau beberapa jamuan ini. Mbah, sebelumnya saya meminta supaya saya kuat bercinta dan kaya raya. Sekarang saya ingin meminta satu istri lagi. Boleh, kan? Istri yang tua sudah kurang menggairahkan lagi. Tolong, yah, Mbah….”

Cerpen yang ditulis pada tahun 2011 hingga 2013 itu rasanya mencakup segala hal yang dibutuhkan pembaca. Menjelaskan bagaimana asal mula Lelaki Tua meminum ompol cucunya. Hal itu berkaitan pula dengan landasan, tujuan dan sumber kepercayaannya. Tokoh yang digambarkan berumur 90 tahun patut diapresiasi perilakunya sebagai penjaga tradisi. Di jaman yang serba modern ini ia masih mempertahankan warisan-warisan tradisi yang ia yakini sebagai penolong hidupnya.
Foto oleh Annisa Tri Sari
Kepercayaan akan selalu menjadi kepercayaan. Apa lagi jika kepercayaan itu telah terbukti. Permintaan-permintaan Lelaki Tua kepada Mbah yang menetap di pohon beringin itu tampaknya selalu dikabulkan. Mungkin itulah yang membuat kepercayaannya terhadap roh yang ada di pohon beringin semakin tidak dapat terbantah dan tergoyahkan. Permintaannya perihal istri kedua nyatanya memang dikabulkan. Itu terlihat dari kutipan di bawah ini.
“Pikiran yang kolot! Itu hanya alasan kalian saja!” Lelaki Tua marah besar. “Lihat kakek kalian ini, punya istri dua, tapi masih tetap bugar begini, bahkan bakal punya anak lagi,” lanjutnya sambil mengelus perut istri keduanya yang baru hamil muda.
Pada akhir cerita Encep seolah-olah menegaskan bahwa tradisi animisme merupakan sebuah kesalahan jika masih dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini. Hal itu terlihat dari realita yang terjadi. Hukum sebab akibat yang diperlihatkannya menandakan bahwa segala sesuatu yang buruk akan berakibat buruk juga.
Atau justru Encep menegaskan bahwa ketika paham animisme tidak dijalankan dengan baik atau tidak diwariskan kepada anak cucu maka ada sebuah kutukan yang harus diterima penganutnya. Itu terlihat setelah para cucu Lelaki Tua, yang berjumlah 25 orang, memutuskan untuk pergi dari rumah dan tidak akan menikah agar tidak memiliki bayi yang ompolnya nanti diminum oleh kakek mereka (lelaki tua). Dengan kata lain mereka menentang perilaku kakeknya itu karena dianggap menyimpang. Akhirnya kutukan itu datang ketika istri kedua Lelaki Tua – yang berhasil didapatkannya setelah melakukan ritual pada malam bulan purnama bulat sempurna – melahirkan seorang bayi yang berkelamin banyak, di wajah dan di sekujur tubuh.
Akhirnya dengan sendirinya bayi itu lahir dari liang peranakan ibunya, saat kilat petir menyambar pohon beringin yang ada di samping rumahnya.
Bayi itu berawakan aneh. Ia perempuan. Alat kelaminnya banyak. Di wajahnya ada. Di tangannya ada. Di kakinya ada. Sekujur tubuhnya dipenuhi alat kelamin, sedangkan ibunya hanya terbaring lemas tak berdaya. Darah di selangkangannya meluber ke mana-mana. Lelaki Tua semakin panik dengan segala keadaan di sekitarnya. Ia tak bisa berbuar apa-apa. Anaknya ia lempar ke sofa. Anak itu kencing di mana-mana. Tiada henti. Rumahnya banjir kencing anaknya. Ia tertawa. Senang bukan main. Tapi, ia tidak tahu kalau pohon beringin di luar rumahnya sudah roboh.
Entah bagaimana maksud Encep, hanya Encep seorang yang mengetahuinya. Sebuah penutup cerita yang berhasil membuat pembaca bertanya-tanya. Sebuah penutup cerita yang berkesan sebab sulit diterka. Namun begitu, cerpen Lelaki Ompol ini mampu mengajak kita kembali pada masa itu, masa di mana paham animisme masih berkembang di tanah negeri. Dan Encep memaksa kita untuk menggali lagi pemahaman mengenai paham animisme itu sendiri.
                                                                                                                                             Medan, 2017 


Foto oleh Annisa Tri Sari





Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...