Langsung ke konten utama

Jangan Nodai Obyek Wisata

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa, Minggu, 4 Mei 2014. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan, yang kadang-kadang suka jalan-jalan, hehehe. Melihat semrawutnya tata kelola obyek wisata kita terutama soal penanganan sampah membuat saya kecewa dan menimbulkan rasa kesal dan sesal. Tapi apa daya, hanya bisa menulis, syukur-syukur dibaca dan syukur-syukur ada perubahan.

Foto: Koleksi Pribadi

Oleh Alda Muhsi


Siapa yang tidak kenal Danau Lau Kawar, Danau Linting, Danau Toba, Gundaling, Pantai Cermin, Ocean Pasific Belawan, Air Terjun Sipisopiso, Air Terjun Bah Butong, Pemandian Alam Sembahe, dan Bukit Lawang? Ya, benar, nama-nama tersebut adalah segelintir nama dari begitu banyaknya objek wisata yang ada di Sumatera Utara. Tempat di mana orang-orang memanjakan diri, bersantai ria, menanggalkan lelah yang sudah lama berdiam dalam tubuh.

Mungkin sekian banyak dari jumlah populasi manusia di Sumatera Utara ini sudah pernah mengunjungi objek wisata yang disebutkan di atas, bahkan ada pula objek wisata lain yang tidak disebutkan. Penulis hanya menyebutkan nama-nama di atas karena penulis sendiri memang sudah pernah mengunjunginya. Dan sebenarnya masih banyak objek wisata lain yang tentunya tak kalah indah.
Memang sangat menyenangkan melakukan perjalanan ke tempat wisata. Apa lagi setelah seharian melakoni pekerjaan yang menyita waktu, tenaga, dan juga pikiran. Dengan berwisata, segala penat yang bernaung dalam diri akan hilang secara perlahan setelah menikmati panoramanya yang sangat memesona.
Sudah sangat jelas dan tak dapat pula untuk dipungkiri bahwasanya alam teramat berharga bagi kelangsungan hidup manusia. Di mana alam dapat memberikan kekuatan positif melalui keindahan dan keteduhannya.
Namun sangat disayangkan, rasanya keindahan yang diberikan oleh alam kepada kita tak dibalas dengan baik. Kepedulian terhadap kebersihan dan kesuciannya masih sangat minim. Bisa dilihat dari sampah yang berserakan di mana-mana, di setiap sudut jalan, bahkan sudah tak bisa dihitung jumlahnya.
Sampah-sampah plastik sisa makanan, botol-botol dan kaleng minuman tampak berjajar di halamannya. Belum lagi sampah alami seperti daun-daun yang berguguran.
Keadaan seperti ini tentunya sangat memalukan. Miris hati rasanya melihat ulah manusia yang tak bisa menjaga alamnya. Bukankah itu tanggung jawab bersama? Kenapa ada yang berpikir dan menumpahkan tanggung jawab itu hanya pada pengelola? Coba bayangkan, jumlah pengelola yang ada banyaknya tak sebanding dengan jumlah pengunjung, dan tak pula sebanding dengan sampah yang ada. Jadi, tak perlu lagi rasanya saling menyalahkan atau saling melempar tuduhan. Tanamkan saja kesadaran pada diri sendiri. Sadari bahwa itu adalah tanggung jawab bersama.
Yang menjadi ancaman serius paling menakutkan nantinya adalah jika objek wisata telah ternodai dengan sampah-sampah tersebut akan berdampak pada jumlah pengunjung. Semakin lama bisa semakin berkurang, atau bahkan bisa habis sama sekali. Dan tidak menutup kemungkinan lama-kelamaan objek wisata tersebut bisa mati.
Apa sulitnya untuk menjaga? Merawat objek wisata yang sudah memberikan benyak kenikmatan pada kita.
Sebenarnya tidak ada yang sulit untuk dilakukan, jika kita memang mau. Jika kita ada niat segalanya akan terasa lebih mudah dan indah. Yang jadi masalah adalah niat itu sendiri.
Patutnya mesti disadari bahwa kebersihan objek wisata itu sangat penting. Dan tentunya kita, sebagai wisatawan, mempunyai tanggung jawab yang sama dengan pihak pengelola dalam menjaganya. Jangan biarkan pemandangan yang indah itu harus ternodai dengan sampah yang disebabkan oleh kita. Apakah kita mau mata kita rusak akibat sampah yang bertaburan? Tentu tidak! Kita berkunjung ke tempat wisata bukan untuk melihat pemandangan sampah, melainkan keindahan bumi yang alami.

Untuk itu, hanya dengan hal kecil yang kita buat, mengutip sampah dan memasukkannya ke dalam tong sampah, berarti kita turut menjaga kelestarian objek wisata tersebut. Menjaga keasrian dan kesuciannya. Dengan begitu alam pun akan merasa senang. Kita yang berkunjung akan merasakan ketenangan pula.
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

[ARTIKEL] Cinta di Atas Jembatan Layang

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Rubrik Taman Remaja Pelajar edisi Minggu, 8 Oktober 2017 dengan sedikit penyuntingan. Setidaknya beginilah gambaran jembatan layang yang ada di Kota Medan, persisnya Jembatan Layang Jamin Ginting (simpang pos). Bagaimana jembatan layang di tempat kalian? Ilustrasi: Internet           Sabtu adalah momen paling mengasyikkan bagi para anak muda yang tengah dilanda asmara. Sebab Sabtu adalah hari di mana kerin­duan kepada kekasih hati dapat dicurahkan. Siapa saja boleh mera­yakan. Tentu saja bagi yang sudah punya pacar. Kalau tak ada pacar, tetap di rumah adalah pilihan bijak. Bagi pasangan yang punya banyak uang, bisalah menghabiskan malam Minggu dengan bepergian ke plaza, nonton di bioskop, makan di kafe, belanja ini itu dan sebagainya. Tak peduli uang yang dikeluarkan bersum­ber dari mana, apakah dari orangtua atau hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau uangn...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...