BELAJAR MENJADI PENGAJAR
Judul : Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia)
Penulis : Timothy D. Walker
Penerbit : Grasindo
Cetakan : Cetakan II, Agustus 2017
Tebal : 198 Halaman
ISBN : 978-602-452-044-1
Peresensi : Alda Muhsi
Finlandia
mengejutkan dunia ketika siswa-siswanya yang masih berusia 15 tahun berhasil
mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan PISA (Programme For International Student Assessment). Sebuah penilaian
tingkat dunia yang diselenggarakan tiap 3 tahun sekali dengan menguji performa
akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. PISA sendiri bertujuan untuk
menguji dan membandingkan prestasi anak-anak di seluruh dunia. Penyelenggaraan
PISA pertama yakni tahun 2001 menghasilkan anak-anak Finlandia berada di
peringkat tertinggi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin
Finlandia mengalahkan negara-negara besar seperti Amerika dan Inggris?
Untuk
menjawabnya kita hanya perlu mengikuti perjalanan Timothy D. Walker
(selanjutnya disebut Tim) yang dituangnya ke dalam buku Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia) ini.
Tim
merupakan seorang berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai guru di
Arlington, Masachusetts, Amerika Serikat.
Saat itu profesinya sebagai guru memaksa dirinya untuk tidak memiliki
waktu. Bekerja hingga larut malam dan ketika tidur berkali-kali terbangun
karena cemas memikirkan rencana pembelajaran esok hari. Sang istri, yang
berkebangsaan Finlandia, begitu terganggu melihat aktifitas suaminya itu.
Kemudian ia pun menceritakan kepada suaminya bagaimana cara kerja temannya yang
berprofesi sebagai guru di Finlandia.
Tim
tidak percaya mendengar cerita istrinya, bagaimana mungkin seorang guru bekerja
tidak lebih dari 6 jam setiap hari. Ia sempat menyimpulkan bahwa teman istrinya
itu bukanlah sosok guru yang baik. Akan tetapi semua itu akhirnya tertepis
setelah Tim pindah ke Helsinki dan menjadi guru di sana.
Semuanya
memang di luar dugaan Tim. Cara kerja guru Finlandia sangat bertolak belakang
dengan guru Amerika. Sebagai contoh guru dan siswa di Finlandia memiliki
istirahat 15 menit setiap 1 jam pelajaran, dan para guru akan menghabiskan jam
istirahat itu di Lounge (minum kopi,
cakap-cakap, membolak-balik majalah). Hal yang tidak pernah dilihatnya di
Amerika. (hlm xxii)
Dalam
bukunya Tim membagikan 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan.
Strategi-strategi yang diberikan pun tergolong mudah untuk diterapkan. Strategi
itu dikelompokkan dalam 5 kategori yang masing-masing memiliki subbab. Kelima
kategori itu yakni: Kesejahteraan, Rasa Dimiliki, Kemandirian, Penguasaan, dan
Pola Pikir.
Jika
dilihat lebih jauh sebenarnya keberhasilan sekolah Finlandia diciptakan karena
komunikasi yang baik antara guru dan murid. Bagaimana guru mampu memperlakukan
murid dengan benar. Itulah yang dikupas Tim dalam buku ini. Bagaimana guru
memberikan kesejahteraan kepada muridnya, bagaimana guru memberikan perhatian
dan kasih sayang kepada muridnya, bagaimana guru membiasakan muridnya untuk
mandiri, bagaimana guru menempa muridnya untuk menjadi ahli (berkaitan dengan
penguasaan dan skill) serta bagaimana
guru mampu menciptakan pola pikir yang baik kepada murid-muridnya.
Satu
hal lagi yang harus kita sadari adalah strategi-strategi jitu yang disajikan
merupakan sebuah alternatif dari strategi belajar mengajar yang selama ini
dipakai (yang terkesan monoton). Sebagai contoh Tim menciptakan “Galeri
Berjalan” untuk mengganti metode pembelajaran ceramah (presentasi slideshow) yang kurang produktif dan
membosankan. “Galeri Berjalan” akan melibatkan semua murid untuk aktif dalam
pelaksanaan pembelajaran. Seperti ini cara kerjanya: para siswa menempelkan
presentasi mereka di dinding kelas atau lorong seakan-akan sedang memamerkan
karya di sebuah galeri seni. Kemudian mereka berkeliling untuk mempelajari
karya-karya yang dipajang. Untuk membuat pengalaman lebih bermakna para siswa
saling memberi masukan dan pertanyaan tertulis untuk menjadi pertimbangan di
kertas kecil (sticky notes). Bagian
terbaiknya adalah di akhir kegiatan secara otomatis pada murid selalu
memperbaiki presentasi mereka tanpa harus didesak. (hlm 21)
Masih banyak strategi-strategi jitu lainnya yang
terangkum dalam buku ini yang dapat dijadikan sebagai pedoman kegiatan belajar
mengajar. Pengalaman memang guru terbaik. Apa lagi pengalaman yang dibagi
seseorang yang berpengaruh terhadap hidup kita. Mungkin kita harus mengucapkan
terima kasih kepada Timothy D. Walker yang dengan lapang hati memberikan
strategi-strategi belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siapa saja yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan dapat mempraktikkan kepada anak-anak
didiknya (secara khusus) dan bagi para orang tua dapat menerapkannya kepada
anak-anak di rumah (secara umum). Rasanya para pengajar wajib memiliki buku
luar biasa ini untuk belajar menjadi pengajar yang baik.

Komentar
Posting Komentar