Langsung ke konten utama

Wiji Thukul, Sang Penyair yang Hilang

Oleh Alda Muhsi

Siapa yang tak kenal namanya? Siapa pula yang tak tanda wajahnya? Apalagi sajak-sajak perjuangannya yang hingga kini masih lantang diperdengarkan. Penyair itu saat ini sedang sembunyi, dan nanti pasti akan kembali. Begitulah anggapan orang-orang terdekatnya, kaum kerabat dan sahabat meyakini.

Berikut ulasan saya terhadap buku Wiji Thukul, Teka-Teki Orang Hilang. Seri Buku Saku Tempo: Prahara-prahara Orde Baru.



Judul               : Wiji Thukul; Teka-Teki Orang Hilang (Seri Buku Saku Tempo)
Penyunting      : Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan           : Cetakan II, Januari 2018
Tebal               : xiv + 194 Halaman
ISBN               : 978-602-424-367-8

Kehidupan bernegara tidak akan pernah bisa dilepaskan dari politik. Karena sejatinya politik itu sendiri yang mengatur laju kehidupan sebuah negara. Walaupun dengan sistem dan ideologi yang berbeda-beda, dapat dipastikan sebuah negara dan konstitusinya tidak terpisah dari politik.
Politik dan sastra bisa dikatakan dua kajian yang memiliki benang panjang untuk saling terkait. Akan tetapi ketika kita mengaitkan dunia sastra, khusunya dunia perpuisian dengan ranah politik tentu saja kita tidak dapat melupakan seorang penyair cadel yang penuh keberanian, meskipun kini keberadaannya sudah tidak diketahui, masih hidup atau telah mati. Penyair aktivis anti orde baru yang dikenal dengan nama Wiji Thukul.
Wiji Thukul terlahir dengan nama Wiji Widodo di Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963. Pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Solo, Jurusan Tari (Sampai kelas II). Menikah secara resmi pada Oktober 1988 dengan perempuan bernama Siti Dyah Surijah alias Sipon. Dari pernikahan tersebut ia memiliki dua orang anak, yakni Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Nama ‘Thukul’ disematkan oleh Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater Rendra, yang juga pengasuh Teater Jagat, tempat di mana Wiji Thukul menimba ilmu keteaterannya.
“Oleh Lawu, nama Widodo dihilangkan diganti dengan Thukul. Wiji Thukul artinya biji tumbuh.” (halaman 118)
“Wiji Thukul juga sempat menambahkan nama ‘Wijaya’ di belakangnya menjadi Wiji Thukul Wijaya. Tapi kemudian ia membuangnya karena sering diledek teman-temannya sebagai nama borjuis.” (halaman 119)
Tidak banyak penyair indonesia yang ikonik. Memiliki potongan-potongan puisi yang melekat pada namanya. Potongan puisi yang ketika orang mendengarnya, membacanya, atau sepintas melihat pada coretan dinding, orang akan langsung mengingat si penyair. Harus diakui Wiji Thukul adalah salah satu penyair yang memiliki potongan puisi ikonik itu. Jika Chairil Anwar memiliki ‘Aku ini Binatang Jalang’ yang melekat pada namanya, maka Wiji Thukul tak akan lekang dari ‘Hanya ada satu kata: LAWAN!’
Kemudian yang menjadi menarik adalah bahwa sebenarnya potongan puisi ikonik itu bukanlah murni dari pemikiran Wiji Thukul sendiri. Dalam buku ini disebutkan bahwa Wiji Thukul pertama kali mendengar kata-kata itu justru dari sebuah puisi yang dibuat Pardi, temannya di Teater Jagat, yang dibuat setahun sebelumnya. Puisi Pardi itu berjudul, “Sumpah Bambu Runcing”.
“Pada sajak Pardi, kalimat Hanya ada satu kata: lawan, yang digunakan untuk sebuah sajak mengenai perjuangan melawan Belanda, oleh Thukul diambil untuk perjuangan buruh.” (halaman 123)
Kegelisahannya terhadap pemerintahan orde baru dan keberanian yang dimilikinya mengantar Thukul menembus batas-batas yang ditakuti oleh orang lain. Bersama dengan koleganya, ia turut memainkan peran dari panggung ke panggung membakar semangat terutama kaum buruh kelas bawah agar selalu bangkit terhadap penindasan pemerintah orde baruu yang sewenang-wenang kala itu.
Kerusuhan 27 Juli 1996 menjadi petaka baginya. Berawal dari dualisme kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Soerjadi dibantu pemerintah menyerbu untuk merebut kantor PDI di jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, yang ketika itu diduduki Megawati  Soekarnoputri. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melaporkan 5 orang tewas, 149 luka-luka dan 28 orang hilang dalam peristiwa tersebut. Menurut Kepala Staf Bidang Sosial dan Politik ABRI, Letnan Jenderal Syarwan Hamid, bentrokan itu didalangi para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) di bawah pimpinan Budiman Sudjatmiko. Ketika itu Wiji Thukul tercatat sebagai Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) yang menjadi organ PRD. Sejak saat itu, seperti aktivis yang lain, ia memutuskan untuk mengembara dari kota ke kota untuk bersembunyi.
Orde Baru runtuh, tapi Wiji Thukul tidak kembali, bahkan sampai sekarang. Banyak kabar beredar tentang keberadaannya, tapi belum ada satu pun yang terbukti. Ironisnya, pihak keluarga meyakini Thukul disembunyikan oleh teman-teman aktifis. Dan sebaliknya para aktifis meyakini Thukul disembunyikan oleh keluarga. Tahun 2000 Sipon melaporkan kehilangan Thukul ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kemudian KontraS menerbitkan siaran pers nomor 7 tahun 2000 yang berbunyi:
“Wiji Thukul hilang pada sekitar Maret 1998 kami duga kuat berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan oleh rezim orde baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan…” (halaman 178)
Berbagai penelusuran dilakukan, tapi belum menghasilkan. Banyak yang percaya Thukul belum mati dan suatu saat akan kembali, di antaranya adalah Lawu dan Hartono, teman Thukul di kelompok Teater Jagat. Hartono yang dianggap menguasai ilmu kebatinan tinggi mencari Thukul menggunakan penerawangan ilmu spiritual yang ia kuasai. Hasilnya nihil.
“Memang saat itu keadaannya nol, kosong. Ia tidak ada di dunia roh. Artinya Jikul belum mati. Tapi ia juga tidak terdeteksi di alam sini, seperti berada di alam lain.” (halaman 166-167)
“Saya punya kemampuan mencari barang hilang bahkan bangkai yang sudah dimakan ikan sekalipun. Jika jasad Thukul tidak bisa saya temukan, berarti ia belum mati.” (halaman 168-169)
Sipon juga meyakini kalau suaminya belum mati.
“Suami saya hilang. Kalau dibilang mati, di mana jasadnya?” (halaman 169)
“Suatu ketika Sipon pernah menerima telepon dari nomor berawalan 024 – kode telepon Semarang. Si penelepon meminta Sipon berhenti mencari Thukul. Tapi Sipon tak menggubris. ‘Saya yakin Thukul akan kembali’.” (halaman 90) 
Ada yang menantikan kepulangannya. Ada yang sudah tidak peduli. Ada yang takut jika ia kembali. Kita hanya bisa meyakini bahwa jalan kebaikan tidak pernah menjauh dari kebenaran. Seperti halnya Hartono yang meyakini Thukul akan kembali setelah 30 tahun menghilang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

Syarat Pindah Alamat Berlangganan Indihome

sumber: google   Masa kontrakan habis, mau pindah ke kontrakan baru, tapi gimana dengan layanan indihome yang sudah terpasang? Tentu saja kita ingin memindahkan perangkat tanpa harus ada embel-embel pasang baru agar terhindar dari biaya pasang yang bernilai Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah). Itulah kemauan kita, tapi berbeda dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak Telkom. Kejadian itu menimpa saya. Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Plaza Telkom Jalan Putri Hijau Medan dengan tujuan untuk memindahkan perangkat i ndihome saya dari kontrakan lama ke kontrakan baru. Setelah naik ke lantai 2 (kantor pelayanan) saya mengantre beberapa saat, tidak pakai selembaran kertas nomor antrean, katanya mereka pakai sistem digital, pelanggan hanya dipotret, dan nanti tiba gilirannya CS akan menghampiri (sebuah inovasi pelayanan dan langkah bijak untuk menghemat pemakaian kertas). Tiba giliran saya untuk mengadu persoalan saya. Namun, jawaban sang CS tidak bisa menenteramkan h...

[CERPEN] Akhir Pertemuan

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Radar Surabaya edisi Minggu, 5 Nopember 2017. 1) Di matamu semakin dalam kulihat ribuan penyesalan terbenam. Mengapa kau dan aku dipertemukan pada waktu yang membuat bisu. Tanda tanya itu tak pernah berubah sedikit pun menjadi titik. Sebelum akhirnya kita bertemu malam ini. Mengubur air mata yang masih tersisa di kelopak, yang kemarin tak kunjung mengering. Setelah kepastian itu benar-benar kudapatkan maka aku putuskan untuk pergi malam itu juga. Melepaskan semua harapan semu. Menanggalkan kisah-kisah indah yang kini hanya mengundang air mata jika dikenang. Sebab kau telah memilih jalan ini. Aku akan mengingat malam ini, bukan tentang malam terakhir kita bertemu bertatap-tatapan, bukan perihal malam di mana masih bisa kunikmati matamu dengan leluasa. Ini malam akan selalu kuingat sebab pada malam ini kujatuhkan seluruh air mata dan kenangan tentangmu hingga kering. Sampai tak ada lagi yang kuingat tentangmu, selain malam in...