Langsung ke konten utama

Ulasan Roman "Kalau Tak Untung" Karya Selasih

 

Foto: Koleksi Pribadi

 

Menyenangkan sekali membaca karya sastra klasik, salah satunya roman Kalau Tak Untung karya Selasih ini. Ada kenikmatan yang tidak bisa digantikan apabila kita bandingkan dengan karya sastra era sekarang. Salah satunya adalah teknik pengarang menarasikan cerita dan mengemukakan dialog. Terdapat kalimat-kalimat kiasan yang berlaku sebagai nasihat atau petuah pada masa itu. Pengarang sangat pandai meramu pepatah-pepatah itu dan menghadirkannya dalam cerita sehingga tidak ada kesan keterpaksaan, singkatnya "klop".

Membacanya bagai menemukan harta karun yang terpendam dalam tanah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Sangat indah, penuh makna dan sebuah pelajaran penting bagi pembaca. Menjadi pengingat bahwa bangsa kita memiliki bahasa ataupun peribahasa yang sangat kaya, yang lahir dari daerah masing-masing. Kalau Tak Untung berlatar Sumatera Barat, tentu yang banyak tersaji adalah petuah-petuah Minang yang dapat dipedomani hingga sekarang.

Konflik cerita pada roman ini masih berputar pada persoalan cinta terlarang, kasih tak sampai, jodoh-menjodohkan, yang menyajikan bagaimana karakter orangtua terhadap anaknya, respon anak lelaki terhadap putusan orangtuanya, reaksi perempuan terhadap keadaan, sikap perempuan yang mencintai diam-diam. Walaupun ejaan yang dipakai masih dengan ejaan lama yang membuat pembaca sekarang meraba-raba maksud, namun pengaruh adat dan kebudayaan yang sangat kental membuat tidak ada tapal pembatas antara pembaca dan roman ini. (Alda Muhsi, 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...