Langsung ke konten utama

Postingan

[PUISI] Wajah

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 17 Januari 2018. Ilustrasi: Erlangga PUISI-PUISI ALDA MUHSI WAJAH /1 Hujan tepikan langkah kita dinaungi atap halte kita duduk bersebelahan aku ingin sampaikan pesan bagaimana melawan gigil tapi wajahmu tertutup dua belah tangan tak dapat kuterka tentang isinya adakah kesedihan? atau kau sedang sembunyikan ia dari para pencari muka, agar tak tercuri SSSK, Januari 2018 WAJAH /2 Kini malam tak lagi sunyi orang-orang berkeliaran memunguti langkah yang tercecer wajah-wajah rata tinggal mata mereka mengaku telah kecurian, mereka mengaku ingin memasang wajah sesiapa yang berjalan di hadapnya SSSK, Januari 2018 WAJAH /3 yang lain berjalan mundur tanpa harus menilik sebab kepalanya telah dikelilingi wajah-wajah yang sembunyi di balik kerudung hitam, mereka terus berjalan ke belakang hindari gerigi jalan dan lubang-lubang tanpa harus terjatuh, tanpa harus tersandung SSS...

[CERPEN ANAK] PR Feby

Akhirnya Redaktur Taman Riang Harian Analisa berkenan kembali mempublikasikan cerpen anak saya. Cerpen ini saya kirim bulan Oktober 2017 dan baru diterbitkan edisi Minggu, 7 Januari 2018.  Terima kasih saya haturkan, dan semoga berkenan menerbitkan cerpen-cerpen selanjutnya. Hehehe... Ayo menulis cerita anak untuk menyelamatkan anak-anak dari serangan game online dan medsos yang melumpuhkan akal. Ilustrasi: Analisa Oleh Alda Muhsi Feby merupakan murid kelas 2 sekolah dasar di SD Negeri 011. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR dengan alasan untuk melatih daya ingat, dan membiasakan agar murid-muridnya rajin belajar. Dalam kelasnya, Feby termasuk murid yang rajin mengerjakan PR. Tak pernah sekalipun ia luput dari PR-nya. Feby telah dibiasakan orang tuanya agar sepulang sekolah harus menyelesaikan PR. Berbeda dari biasanya, hari ini sepulang sekolah Feby diajak Amanda untuk berkunjung ke rumahnya. Amanda merupakan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta. Feb...

[PUISI] Desember

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa edisi Rabu, 3 Januari 2018. Artinya menjadi karya pertama saya yang terbit di media, walaupun puisinya dibuat di tahun 2017. Hehehe. Ilustrasi: Erlangga DESEMBER /1 aku membalik lembaran kalender terakhir menghitung angka-angka yang sama memulangkan peristiwa demi peristiwa sudah sekian lama penantian hanya ditemani kata-kata pada perputaran bola dunia, bulan mengiring terik matahari SSSK, Desember 2017 DESEMBER /2 di antara gugus yang terbungkus kita tercerai oleh jarak, lautan yang menjelma rumah dan tong sampah orang-orang berpesta pora, menandai kepergian kenangan riwayat tidak tersusun rapi membuang-buang kepingan rasa kita saling berseru, mengungkap segala yang tertuang di dada SSSK, Desember 2017 DESEMBER /3 jalanan ramai oleh langkah-langkah semakin berdesakan, seperti kerinduan di jantung para penanti ujung bulan hilang, dikeroposi genting waktu dilesapkan malam pada awan yang ...

[PUISI] Sajak Penutup Tahun

Dua puisi ini saya buat tahun 2015, dan 2 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa edisi ujung tahun, 31 Desember 2017. Kali ini bersanding dengan puisi lelaki yang mengaku legend dalam hidup (Abd. Rahman M, beliau orang yang mengenalkan saya dalam dunia tulis menulis. Sungkem guru....) Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar Harian Analisa. Alda Muhsi Sajak Penutup Tahun / 1 Ibarat pepohonan kita adalah daun pada batang paling ujung kerap terombang-ambing disapu angin menunggu gugur di pematang yang entah Sajak Penutup Tahun / 2 Dan pada malam-malam dekat akhir laju waktu berpacu cepat tanpa memandang spasi adapun kenangan yang tertinggal takkan sempat diratapi kau dan aku hanya perlu restorasi * SSSK, jelang Desember 2015 Abd Rahman M Januari / 1 Januari terhitung setengah jari manis yang melingkar cincin kenangan amis alkisah separuh kecupan kau tuang di cangkir kosong alunan jam di pajang terang jarimu menggulung sehelai kertas ya...

Sebuah Tahun yang Baru

Tulisan ini saya buat ketika masih kuliah, 4 tahun kemudian baru diterbitkan oleh Harian Analisa tepatnya Minggu, 31 Desember 2017. Menurut saya betapa koran ini begitu menghargai sebuah tulisan. Terima kasih kepada redaksi Taman Remaja Pelajar. Gerbang tahun baru sudah terbuka lebar di depan mata kita, maka marilah kita bersiap-siap menyambut kedatangannya. Bukan hanya dengan tiupan terompet dan letupan kembang api untuk meme­riahkannya, melainkan juga dengan menempa potensi diri untuk lebih baik lagi. Mungkin banyak persoalan, kendala, atau rintangan yang kita hadapi sepanjang tahun ini. Sudah saatnya dijadikan pembelajaran agar diri menjadi semakin tegar dalam menghadapi tahun baru besok. Tahun baru tiba, tentunya umur juga bertambah. Tinggalkan segala kegalauan yang selama ini meng­hantui. Tinggalkan di luar gerbang sebelum kaki menginjakkan ruang baru besok. Sudah saatnya melakukan hal-hal yang bermanfaat, mengingat waktu tak bisa diulang walaupun hanya sedeti...

[PUISI] Desember dan Hujan di Matamu

Puisi-puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Harian Analisa Medan edisi Rabu, 27 Desember 2017. Pic: Freepik DESEMBER DAN HUJAN DI MATAMU /1 Bulan masih menggantung dengan harapan yang gelayut disapu angin masing-masing kita telah kantongi lelah pada tiap saku baju dan celana jas hujan yang kau pakai tak mampu sembunyikan tubuh dari gigil bukankah ini akhir? bisakah jadi tumpuan mematri janji seketika di matamu turun hujan isyaratkan keragu-raguan. SSSK, Desember 2017 DESEMBER DAN HUJAN DI MATAMU /2 Berdiam di sini tak mendapatimu memadu ketenangan seperti puluhan malam, jauh pada bulan-bulan berganti datang dan pergi meretas cemas Di matamu yang semula anggun tidak ada lagi rimbun daun anginkan rebah tubuh, pada waktu gaduh SSSK, Desember 2017 DESEMBER DAN HUJAN DI MATAMU /3 Kita sampai pada kesepian yang menggali lubang di bawah telapak kaki akar-akar bercecabang meraih pergelangan sebelum ia mengerat kuat, adakah kau mampu mengangka...

Rahasia "13" Sebagai Angka Sial

Angka 13 sudah sangat terkenal sebagai angka sial. Angka yang dihindari orang dalam segala urusan. Yang paling menonjol yang kita temui sehari-hari barangkali gedung apartemen atau perumahan yang selalu menghindarkan angka 13. Misalnya dari lantai 12 langsung loncat ke lantai 15. Begitu pula perumahan dari nomor rumah 12 langsung ke nomor 15. Begitulah keyakinan yang berkembang. Mungkin dalam persoalan lain masih banyak contoh orang-orang yang menghindari angka 13 yang dianggap sial. Barangkali sudah banyak tulisan-tulisan atau sekadar wacana yang menyebutkan asal muasal mengapa angka 13 dikatakan sebagai angka sial. Di sini saya hanya ingin menyampaikan sedikit yang saya ketahui tentang awal mula 13 bisa dikatakan sebagai angka sial. Kemajuan teknologi menunjang rasa ingin tahu yang besar. Berkat kemudahan yang ditawarkannya kita bisa mencari apa saja hal yang mengganjal dalam benak kita. Secara tidak sengaja ketika mendengar sebuah taklim UAS (Ustadz Abdul Somad) d...